Perang Obor Tegalsambi Jadi Magnet Ribuan Warga, Tradisi Leluhur yang Kini Dibidik Jadi Wisata Nasional
Perang Obor Tegalsambi Jadi Magnet Ribuan Warga, Tradisi Leluhur yang Kini Dibidik Jadi Wisata Nasional
JEPARA Tribunnusantara-web.id — Lautan manusia memadati Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, saat tradisi Perang Obor kembali digelar dalam rangka puncak Sedekah Bumi, Senin malam (25/5/2026).
Tradisi turun-temurun yang sarat nilai budaya itu kembali menjadi pusat perhatian masyarakat, bahkan disebut-sebut layak menjadi ikon wisata budaya nasional.
Gemuruh sorak warga pecah ketika puluhan peserta membawa obor menyala dan saling berhadapan di arena tradisi yang sudah diwariskan leluhur sejak ratusan tahun silam. Kobaran api, aroma jerami terbakar, dan semangat masyarakat menjadikan suasana malam di Tegalsambi begitu hidup dan penuh magis budaya.
Tak hanya warga lokal, ribuan pengunjung dari luar daerah hingga wisatawan mancanegara turut memadati lokasi untuk menyaksikan langsung tradisi unik yang sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan Republik Indonesia itu.
Tradisi Perang Obor sendiri merupakan bagian dari ritual Sedekah Bumi sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi dan keselamatan desa.
Di balik atraksi api yang memukau, tersimpan cerita rakyat tentang perselisihan antara Kyai Babadan dan Kyai Gemblong. Kisah itu bermula saat Kyai Gemblong dianggap lalai merawat ternak kerbau milik Kyai Babadan hingga memicu pertengkaran yang kemudian diwujudkan dalam simbol perang menggunakan pelepah daun pisang kering yang dibakar atau yang kini dikenal sebagai Perang Obor.
Petinggi Desa Tegalsambi, Agus Santoso, menyampaikan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan acara budaya tersebut. Ia berharap Perang Obor tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga mampu mengangkat nama Tegalsambi sebagai destinasi wisata budaya berskala nasional.
“Alhamdulillah, tradisi ini terus lestari dan mendapat perhatian luas. Kami berharap Perang Obor bisa menjadi ikon wisata nasional yang berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat desa,” ujarnya.
Menurut Agus, selain budaya, Tegalsambi juga memiliki potensi kuliner khas yang menjadi daya tarik tersendiri, salah satunya makanan tradisional “Kintelan”, olahan ketan dengan kuah santan kental yang dikenal memiliki cita rasa khas dan digemari pengunjung.
Acara yang dimulai pukul 20.30 WIB itu turut dihadiri Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Yasin, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, media, hingga tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Gus Yasin menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi budaya warisan leluhur di tengah derasnya arus modernisasi.
“Tidak salah kita menjaga adat tradisi dan seni budaya yang diwariskan leluhur. Ini adalah warisan adi luhung yang harus terus dijaga,” tegasnya.
Perang Obor kini bukan sekadar tontonan budaya, tetapi telah menjadi identitas masyarakat Tegalsambi yang mampu menyedot perhatian publik sekaligus membuka peluang besar bagi sektor wisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Jepara.
Hani K








































Komentar via Facebook