Pesan Haru Ali Baham Saat Lepas Abdul Latif Suaeri: “Beliau Milik Kita Bersama”

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 12 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pesan Haru Ali Baham Saat Lepas Abdul Latif Suaeri: “Beliau Milik Kita Bersama”

Fakfak, TribunNusantara.web.id | Ada orang yang pergi meninggalkan kenangan. Ada pula yang pergi meninggalkan jejak. Bagi Pemerintah Provinsi Papua Barat dan masyarakat Kabupaten Fakfak, kepergian Dr. Drs. Abdul Latif Suaeri, M.Si., M.Sc., adalah kehilangan seorang birokrat sekaligus putra terbaik tanah Papua yang sepanjang hidupnya memilih mengabdi.

Abdul Latif Suaeri mengembuskan napas terakhir pada Jumat (11/9/2026) pukul 22.50 WIT di Manokwari setelah menjalani perawatan karena sakit. Ia meninggal dunia dalam usia 63 tahun. Kabar duka itu disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat Drs. Ali Baham Temongmere, M.TP., saat prosesi pelepasan jenazah dari rumah duka, Sabtu (12/9/2026).

Di hadapan keluarga, jajaran pemerintah dan para pelayat, Ali Baham menyampaikan penghormatan terakhir. Suaranya membawa pesan kehilangan yang tidak hanya dirasakan birokrasi, tetapi juga tanah yang selama puluhan tahun menjadi tempat almarhum mencurahkan pengabdiannya.

“Kami dan kita semua kehilangan salah satu putra terbaik, anak adat yang mengabdi dan bekerja tulus untuk tanah Papua ini, dari lembah, gunung, hingga pantai. Kini beliau telah pergi mendahului kita.”

Ali Baham mengatakan, atas nama Gubernur Papua Barat, Wakil Gubernur, Forkopimda dan seluruh aparatur sipil negara di Manokwari, penghormatan setinggi-tingginya diberikan atas pengabdian almarhum. Ia juga menyampaikan pesan Bupati Fakfak serta Plt. Sekda Kabupaten Fakfak kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Atas permintaan Bapak Bupati Fakfak, kami menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya atas segala pengabdian almarhum selama bertugas di Kabupaten Fakfak yang kita cintai ini.”

Sebagai bentuk penghormatan negara, prosesi penyerahan jenazah dari pihak keluarga telah diterima pemerintah melalui Gubernur Papua Barat dan selanjutnya diserahkan kepada Sekda. Rombongan Pemerintah Provinsi Papua Barat kemudian berangkat menuju Fakfak dengan dua penerbangan untuk mengikuti prosesi pemakaman.

Namun, di balik jabatan dan pangkat yang pernah disandang, perjalanan Abdul Latif adalah cerita panjang tentang seorang anak Kokas yang menempuh jalan pengabdian selama lebih dari empat dekade. Lahir di Kokas pada 2 November 1963, ia merupakan putra keenam dari 11 bersaudara pasangan H. Hussein Suaeri dan Aminah Puan. Ia meninggalkan istri, Chandra Sri Ubayanti, serta tiga anak, Maulana Arnipan Suaeri, Muamar Baginavan Suaeri dan Tanisa Fitri Suaeri.

Jejak pendidikannya dimulai dari SD Inpres Kokas pada 1975, berlanjut ke SMP Negeri Kaimana, SMA Negeri 416 Fakfak, APDN Jayapura, hingga menyelesaikan pendidikan S1 di IIP Jakarta. Perjalanan akademiknya terus berlanjut hingga jenjang doktoral dan meraih gelar Doktor dari Universitas Gadjah Mada pada 2022.

Karier birokrasi Abdul Latif dimulai sebagai CPNS pada 1 Oktober 1985. Selama 41 tahun pengabdian, ia berpindah dari satu medan tugas ke medan tugas lainnya. Dari Kasubag Protokol Setda Jayawijaya, Kepala Distrik Okbibab, Bappeda Provinsi Irian Jaya, Kepala Bappeda Kaimana, Kepala Bappeda Fakfak, Kepala Dinas Pertanian Fakfak, Kepala DPMK Fakfak, hingga Kepala DLH dan Pertanahan Provinsi Papua Barat. Ia kemudian dipercaya menjadi Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum pada 2023, sebelum menduduki jabatan terakhir sebagai Analis Kebijakan Ahli Utama sekaligus Plt. Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Papua Barat.

Pangkat terakhirnya adalah Pembina Utama Madya, golongan IV/d. Tetapi bagi mereka yang mengenalnya, angka-angka jabatan dan pangkat itu bukanlah ukuran paling penting. Abdul Latif dikenang sebagai sosok yang memiliki hubungan kekerabatan luas di Fakfak, Kokas dan berbagai marga. Karena itu, ketika ia pergi, rasa kehilangan seolah menyebar dari satu keluarga ke keluarga lainnya.

“Ketika dihitung-hitung, hubungan kekerabatan Kakanda almarhum ini ada di mana-mana. Hal tersebut menjadi pertanda bahwa almarhum adalah milik kita bersama,” kata Ali Baham.

Kini perjalanan panjang itu sampai di penghujungnya. Setelah puluhan tahun bergerak dari lembah, gunung hingga pantai Papua untuk menjalankan tugas negara, Abdul Latif akhirnya kembali ke tanah kelahirannya. Jenazahnya direncanakan dimakamkan di Taman Makam Bahagian Lembah Onim Fakfak.

Ali Baham mengajak seluruh keluarga, sahabat, rekan kerja dan masyarakat untuk mengikhlaskan kepergian almarhum serta memaafkan segala khilaf dan kekurangannya semasa hidup.

“Mari kita ikhlaskan kepergian almarhum. Mohon dimaafkan apabila selama hidupnya terdapat hal-hal yang kurang berkenan.”

Seorang anak Kokas telah menuntaskan perjalanan panjangnya. Empat puluh satu tahun pengabdian telah menjadi bagian dari sejarah hidupnya dan sejarah birokrasi Papua. Kini, yang tersisa adalah jejak, kenangan, doa, dan sebuah harapan sederhana dari mereka yang ditinggalkan: semoga perjalanan terakhirnya dilapangkan, seluruh dosanya diampuni, dan ia ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Selamat jalan, Abdul Latif Suaeri. Tanah Papua kehilangan seorang putranya. Tanah kelahiran kini menerima kembali anaknya.
 

Writter : ASAH | Editor : Den