RAKYAT TETAP HAUS, APARAT MIMIKA DISEBUT OMPONG DAN TUTUP MATA. SPAM TIMIKA Rp 1,1 TRILIUN DIDUGA JADI "MESIN PEMBAKAR UANG"
RAKYAT TETAP HAUS, APARAT MIMIKA DISEBUT OMPONG DAN TUTUP MATA. SPAM TIMIKA Rp 1,1 TRILIUN DIDUGA JADI "MESIN PEMBAKAR UANG"
Mimika Tribunnusantara-web.id — Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Timika yang menelan anggaran fantastis hingga Rp1,1 triliun kini berubah menjadi simbol kemarahan dan kekecewaan rakyat Mimika. Proyek yang sejak awal dijual sebagai solusi krisis air bersih justru meninggalkan ironi pahit: anggaran terus membengkak liar, sementara rakyat tetap hidup dalam krisis air bersih. Minggu (18/05/2026).
Lebih memalukan lagi, proyek yang sudah berjalan belasan tahun itu kini dianggap publik seperti “mesin pembakar uang” tanpa hasil nyata. Dana ratusan miliar hingga triliunan rupiah terus dikucurkan, tetapi air bersih yang dijanjikan tak kunjung mengalir merata ke rumah-rumah warga.
Di tengah penderitaan masyarakat yang harus berjuang mendapatkan kebutuhan dasar, proyek SPAM Timika justru terlihat seperti lubang hitam anggaran yang terus menelan uang rakyat tanpa pertanggungjawaban yang jelas.
“Ini proyek air bersih atau proyek bancakan berjamaah?” kecam seorang warga Mimika dengan nada geram.
Fakta paling mencolok adalah lonjakan anggaran yang dinilai tidak masuk akal. Dari nilai awal sekitar Rp374 miliar, anggaran proyek melonjak menjadi Rp510 miliar pada tahun 2022, lalu kembali membengkak hingga disebut-sebut tembus Rp1,1 triliun.
Namun pertanyaannya sederhana: kalau uang sudah habis triliunan, kenapa rakyat Mimika masih kesulitan air bersih?
Kondisi ini membuat publik mulai mencium adanya dugaan persoalan serius di balik proyek raksasa tersebut. Mulai dari dugaan perencanaan amburadul, pemborosan sistematis, hingga kemungkinan permainan anggaran yang selama ini tidak pernah dibuka secara terang-benderang kepada publik.
Ironisnya, aparat penegak hukum di Mimika justru dinilai seperti kehilangan taring. Polisi dan jaksa dianggap hanya menjadi penonton bisu di tengah proyek jumbo yang terus disorot masyarakat.
“Kasus sebesar ini kok aparat diam? Jangan-jangan memang ada yang dilindungi,” ujar seorang tokoh masyarakat dengan nada tajam.
Kemarahan publik semakin memuncak setelah Kepala Dinas PUPR Mimika sulit dikonfirmasi. Media ini bahkan telah berupaya menghubungi yang bersangkutan sebanyak empat kali melalui sambungan telepon seluler, namun tidak mendapat respons sama sekali.
Sikap bungkam tersebut justru memperkuat dugaan publik bahwa ada sesuatu yang sengaja ditutupi dari proyek SPAM Timika.
SPAM Timika sendiri merupakan proyek kerja sama antara PT Freeport Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Mimika. Dalam pembagian tugasnya, PT Freeport Indonesia menangani pembangunan fasilitas pengolahan air, sedangkan pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap jaringan distribusi air ke masyarakat.
Namun fakta di lapangan berkata lain. Belasan tahun proyek berjalan, anggaran terus naik gila-gilaan, tetapi rakyat tetap haus.
Publik kini mempertanyakan ke mana sebenarnya uang triliunan rupiah itu mengalir. Sebab jika proyek terus molor tanpa hasil nyata, sementara biaya terus membengkak, maka sangat wajar bila masyarakat mencurigai adanya dugaan permainan besar di balik proyek tersebut.
“Kalau proyek gagal tetapi anggaran terus naik, itu bukan lagi keterlambatan biasa. Itu sudah alarm bahaya,” tegas seorang aktivis di Mimika.
Masyarakat pun mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi, Kejaksaan Agung Republik Indonesia, dan Listyo Sigit Prabowo turun tangan langsung membongkar proyek SPAM Timika secara total.
Sebab publik menilai aparat penegak hukum di Mimika sudah terlalu “ompong” menghadapi proyek-proyek besar yang menyangkut uang rakyat.
DPRD Mimika juga didesak berhenti menjadi penonton dan segera membentuk panitia khusus (Pansus) untuk mengaudit total proyek tersebut. Masyarakat menuntut pengusutan terbuka terhadap seluruh aliran anggaran serta pihak-pihak yang diduga harus bertanggung jawab.
Bagi rakyat Mimika, persoalan ini bukan sekadar proyek gagal. Ini adalah potret nyata bagaimana hak dasar masyarakat bisa dikorbankan di tengah pesta anggaran bernilai triliunan rupiah.
“Rakyat haus bertahun-tahun, sementara anggaran makin gemuk setiap tahun. Kalau ini bukan skandal besar, lalu apa namanya?” kecam warga lainnya.
Kini publik menunggu keberanian negara: apakah proyek SPAM Timika akan dibongkar secara jujur demi menyelamatkan uang rakyat, atau justru dibiarkan menjadi monumen kegagalan, pemborosan, dan dugaan permainan anggaran terbesar di Mimika?
(Pemburu Korup)








































Komentar via Facebook