RAWAT WARISAN BUDAYA, MIMIKA DORONG GENERASI MUDA KUASAI KESENIAN TRADISIONAL
Lima Hari Pelatihan, Guru Dibekali Keterampilan Anyaman, Noken, Mahkota Adat dan Ukiran Papua
Timika, TribunNusantara.web.id |Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terus memperkuat upaya pelestarian budaya Papua dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda dan para guru di lingkungan sekolah.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pelatihan keterampilan kesenian tradisional yang berlangsung selama lima hari, dengan materi meliputi pembuatan anyaman, noken, mahkota adat, ukiran serta berbagai kerajinan tangan berbasis budaya lokal.
Kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan karya seni, tetapi juga menjadi bagian dari strategi agar pengetahuan dan keterampilan budaya Papua dapat diwariskan kepada generasi berikutnya melalui lingkungan pendidikan.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Daniel Orun, S.Pd., M.Pd., mengatakan pelestarian budaya harus dimulai sejak anak-anak berada di bangku sekolah.
Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam memastikan generasi muda tidak kehilangan pengetahuan mengenai sejarah, identitas dan budaya daerahnya sendiri.
“Jangan sampai anak-anak kita kehilangan budaya dan sejarahnya. Karena itu, mereka harus diberikan pemahaman dan keterampilan sejak di bangku sekolah,” ujar Daniel.
Ia menilai pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Dibutuhkan pendidikan, pelatihan dan praktik secara berkelanjutan agar anak-anak tidak hanya mengetahui nama dan bentuk suatu karya budaya, tetapi juga mampu membuat dan mengembangkannya.
LIMA HARI, GURU HASILKAN KARYA KERAJINAN
Dalam kegiatan tersebut, Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menghadirkan Duta Noken Papua, Marshall Suebu, S.Sos., M.Si., sebagai narasumber.
Selama lima hari, peserta mendapatkan pembekalan dan praktik langsung mengenai berbagai keterampilan seni dan kerajinan tradisional Papua.
Marshall Suebu menekankan bahwa noken, anyaman, mahkota adat dan ukiran Papua merupakan bagian penting dari kekayaan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.
Ia mendorong para guru yang mengikuti pelatihan agar meneruskan pengetahuan tersebut kepada para siswa di sekolah.
“Anyaman, noken, mahkota dan ukiran di Papua tidak boleh punah. Bapak dan ibu guru harus mengajarkan anak-anak supaya mereka bisa berkarya di dunia seni dan budaya Papua,” katanya.
Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keberlangsungan budaya. Ketika keterampilan tradisional diajarkan secara rutin kepada siswa, maka akan semakin banyak generasi muda yang memiliki kemampuan untuk meneruskan karya budaya tersebut.
Hasilnya mulai terlihat selama pelatihan berlangsung. Setelah mengikuti kegiatan selama lima hari, para guru peserta telah mampu menghasilkan sejumlah kerajinan tangan yang diperoleh melalui proses belajar dan praktik langsung.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi merupakan keterampilan yang dapat dipelajari, dikembangkan dan diwariskan kepada generasi muda.
NOKEN: IDENTITAS BUDAYA YANG HARUS TERUS DIGUNAKAN
Daniel Orun juga menyoroti keberadaan noken sebagai salah satu warisan budaya Papua yang memiliki nilai penting bagi masyarakat.
Menurutnya, noken bukan hanya kerajinan tradisional, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat Papua yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai aktivitas.
Karena itu, ia berharap penggunaan noken terus dipertahankan dan semakin diperluas di Kabupaten Mimika.
“Noken itu selalu dipakai dan merupakan salah satu budaya Papua yang sudah dikenal dunia. Kami berharap pemerintah daerah terus mendukung agar noken tetap digunakan oleh ASN maupun masyarakat di Kabupaten Mimika,” ungkapnya.
Penggunaan noken dalam kehidupan sehari-hari dinilai dapat menjadi salah satu bentuk nyata pelestarian budaya. Semakin sering digunakan dan diperkenalkan, semakin besar pula peluang generasi muda mengenal nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.
JANGAN BIARKAN BUDAYA PAPUA HANYA MENJADI CERITA
Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika berharap kegiatan peningkatan kapasitas seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada satu kegiatan.
Pemerintah daerah juga diharapkan memberikan perhatian lebih terhadap sektor kebudayaan, sehingga para pelaku seni, guru, komunitas budaya dan generasi muda memiliki ruang untuk terus belajar dan berkarya.
Daniel berharap ke depan kegiatan serupa dapat semakin diperkuat dengan dukungan pemerintah.
“Harapan kami kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan. Pemerintah juga diharapkan lebih fokus memberikan perhatian kepada bidang kebudayaan, supaya masyarakat bisa mendapatkan manfaat dan budaya Papua tidak punah,” ujarnya.
Pelestarian budaya pada akhirnya bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Sekolah, guru, orang tua, pelaku seni, masyarakat adat, komunitas dan generasi muda memiliki peran yang sama penting dalam menjaga warisan leluhur.
Di tengah perubahan zaman dan arus budaya global, Mimika ingin memastikan bahwa noken, anyaman, mahkota adat, ukiran dan berbagai kesenian Papua tidak hanya tersimpan sebagai artefak masa lalu, tetapi tetap hidup, digunakan, diajarkan dan diwariskan.
Sebab, ketika sebuah generasi berhenti mengenal budayanya, yang hilang bukan sekadar sebuah kerajinan—tetapi bagian dari identitas dan sejarah masyarakat.
Writter : M.G. FAKAUBUN








































Komentar via Facebook