RAWAT WARISAN LELUHUR, 100 PESERTA DI MIMIKA DIBEKALI KETERAMPILAN NOKEN, ANYAMAN, MAHKOTA ADAT, UKIRAN DAN TENUN

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 22 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

RAWAT WARISAN LELUHUR, 100 PESERTA DI MIMIKA DIBEKALI KETERAMPILAN NOKEN, ANYAMAN, MAHKOTA ADAT, UKIRAN DAN TENUN

Tribun-nusantara.web.id.  Lima Hari Pelatihan, Guru Seni SMP hingga SMK Disiapkan Jadi Agen Pelestari Budaya di Sekolah

TIMIKA, 22 SEPTEMBER 2026 — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Pelatihan Peningkatan Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Kesenian Tradisional di Hotel Grand Tembaga, Timika, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini melibatkan sekitar 100 peserta, termasuk guru seni jenjang SMP, SMA, dan SMK, serta pelaku seni dan budaya tradisional dari berbagai wilayah di Kabupaten Mimika.

Pelatihan tersebut diarahkan bukan sekadar untuk meningkatkan keterampilan membuat produk seni tradisional, tetapi juga memperkuat peran dunia pendidikan sebagai ruang strategis untuk menjaga keberlangsungan budaya lokal di tengah perkembangan teknologi dan arus globalisasi.

Pembukaan kegiatan diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Mimika, Santi Sondang, S.IP., M.Si., karena Bupati Mimika berhalangan hadir lantaran sedang menjalankan tugas lainnya.

Dalam sambutannya, Santi mengajak seluruh peserta membangun kekompakan sejak awal pelatihan.

Para guru dari berbagai jenjang pendidikan juga diajak saling memperkenalkan diri dan membangun suasana belajar yang terbuka, santai, namun tetap serius selama lima hari pelatihan.

Menurutnya, kekompakan antarguru sangat penting karena mereka nantinya tidak hanya belajar untuk kepentingan pribadi, tetapi juga membawa pengetahuan tersebut kembali ke sekolah masing-masing.

BUDAYA BUKAN SEKADAR KARYA SENI

Santi menegaskan bahwa Mimika memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang luar biasa.

Karya seni seperti noken, anyaman, mahkota adat, ukiran, aksesori tradisional, dan tenun tidak dapat dipandang hanya sebagai produk kerajinan.

Di balik setiap karya terdapat identitas, nilai sosial, filosofi, sejarah, dan warisan pengetahuan yang diwariskan oleh leluhur.

Karena itu, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial.

“Pelestarian budaya harus diwujudkan melalui pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan transfer pengetahuan secara berkelanjutan,” menjadi salah satu pesan utama dalam sambutan pemerintah daerah.

GLOBALISASI JADI TANTANGAN

Pemerintah Kabupaten Mimika juga mengakui bahwa perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, dan arus globalisasi menghadirkan tantangan terhadap keberlangsungan kesenian tradisional.

Sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian antara lain regenerasi pengrajin, peningkatan kualitas karya, penguatan estetika, serta kemampuan produk budaya untuk bersaing di pasar ekonomi kreatif.

Jika tidak diikuti langkah nyata, keterampilan tradisional berisiko semakin jauh dari generasi muda.

Karena itu, pelatihan tersebut dirancang sebagai salah satu bentuk investasi sumber daya manusia untuk memastikan pengetahuan budaya tetap hidup dan berkembang.

ENAM KETERAMPILAN TRADISIONAL DILATIH

Selama lima hari, peserta akan mendapatkan pembekalan teori, filosofi budaya, praktik terbimbing, workshop, evaluasi, hingga pengembangan karya.

Materi utama meliputi:

1. Pembuatan Noken

Peserta mempelajari keterampilan sekaligus nilai filosofis, sosial, dan identitas yang melekat pada noken sebagai warisan budaya Papua.

2. Anyaman Tradisional

Peserta dibekali teknik dasar hingga pengembangan bentuk dan pola anyaman.

3. Mahkota Adat

Pelatihan diarahkan pada pengenalan serta pelestarian atribut dan simbol budaya tradisional.

4. Seni Ukir

Peserta diperkenalkan pada teknik, motif, simbol, serta karakter seni kriya tradisional.

5. Aksesori Tradisional

Materi diarahkan untuk mengembangkan keterampilan seni kriya lokal sekaligus membuka peluang inovasi produk.

6. Tenun

Peserta mendapatkan pembekalan untuk memperkuat keterampilan dan mengembangkan karya tenun yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi.

GURU SENI DIHARAPKAN MENJADI AGEN PEWARIS BUDAYA

Sasaran utama kegiatan adalah guru seni jenjang SMP, SMA, dan SMK.

Posisi guru dinilai strategis karena mereka memiliki akses langsung kepada generasi muda di lingkungan sekolah.

Karena itu, ilmu yang diperoleh selama pelatihan diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan.

Guru didorong untuk membawa keterampilan tersebut kembali ke sekolah, mengajarkannya kepada siswa, dan menjadikannya bagian dari proses pendidikan budaya.

Dengan pola tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat pembelajaran akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal, mempraktikkan, dan melestarikan budaya lokal.

DARI PELESTARIAN MENUJU EKONOMI KREATIF

Pelatihan juga memiliki dimensi ekonomi.

Pemerintah berharap peserta mampu meningkatkan mutu produk kerajinan lokal, mempertahankan keaslian motif dan nilai adat, namun tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi kreatif.

Peningkatan kualitas tersebut diharapkan dapat membuka peluang lahirnya wirausahawan baru di sektor seni dan ekonomi kreatif, yang pada akhirnya dapat memberikan manfaat bagi keluarga dan perekonomian daerah.

Namun, inovasi tetap diharapkan tidak menghilangkan identitas budaya.

Nilai adat, filosofi, keaslian motif, dan karakter tradisional harus tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan karya.

WARISAN LELUHUR UNTUK GENERASI MENDATANG

Di hadapan para peserta, pemerintah daerah menyampaikan harapan agar pelatihan tersebut menghasilkan dampak jangka panjang.

Bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga melahirkan generasi muda Mimika yang memahami budaya sendiri, memiliki keterampilan, memiliki rasa bangga terhadap identitas daerah, serta mampu memperkenalkan kekayaan budaya Papua kepada masyarakat yang lebih luas.

“Bawalah ilmu yang diperoleh kembali ke sekolah masing-masing. Ajarkan kepada para siswa, praktikkan bersama, dan jadikan sebagai bagian dari proses menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal kepada generasi muda,” pesan pemerintah daerah.

Pelatihan di Hotel Grand Tembaga ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan pendidikan, kebudayaan, keterampilan, dan ekonomi kreatif dalam satu gerakan pelestarian.

Dari Timika, pesan yang dibawa adalah bahwa budaya tidak cukup hanya dikenang.

Budaya harus dipelajari, dipraktikkan, diwariskan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada dunia.

Dengan demikian, noken, anyaman, mahkota adat, ukiran, aksesori tradisional, dan tenun bukan hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi dapat terus hidup sebagai identitas budaya sekaligus bagian dari masa depan generasi muda Mimika dan Papua.

Penulis:M.G.FAKAUBUN