Redam Hoaks dan Rawat Toleransi, Bodewin Wattimena Dorong FKUB Jadi Garda Terdepan Cegah Konflik di Ambon
AMBON,Tribun-nusantara.web.id. Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, menegaskan pentingnya upaya preventif (pencegahan) ketimbang penanganan pasca-konflik layaknya pemadam kebakaran dalam menjaga stabilitas keamanan di Ibu Kota Provinsi Maluku. Hal ini disampaikannya usai memimpin Rapat Koordinasi bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Ambon yang berlangsung di Aula Balai Kota Ambon, Rabu (16/9/2026).
Dalam wawancara mendalam dengan media, Wattimena menekankan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali semangat kolektif antara Pemerintah Kota, Forkopimda, dan tokoh agama guna merajut harmoni dan kebersamaan di Kota Ambon.
Walikota meminta para tokoh agama yang tergabung dalam FKUB untuk mengambil peran aktif di garis depan. Edukasi mengenai pentingnya toleransi diharapkan dapat disisipkan secara masif dalam setiap peribadatan umat."FKUB ini terdiri dari tokoh-tokoh agama. Kami ingin peran penting mereka dioptimalkan, paling tidak melalui khotbah Jumat bagi Muslim, khotbah Minggu bagi Kristiani, serta ibadah umat Hindu dan Buddha. Edukasi umat secara langsung untuk menjaga kebersamaan. Saya yakin, jika ini terus dilakukan, akan muncul kesadaran kolektif di tengah masyarakat untuk saling menjaga," ujar Bodewin.
Selain penguatan internal umat, Walikota menaruh perhatian serius terhadap bahaya informasi bohong (hoaks) di media sosial yang mampu mengubah situasi kamtibmas secara instan. Beliau mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dan tidak asal membagikan berita yang belum terverifikasi kebenarannya.
Secara tajam, Bodewin mencontohkan sensitivitas narasi pemberitaan pada konflik yang baru-baru ini terjadi di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB)."Informasi di medsos ini pergerakannya cepat sekali. Saya kasih contoh konflik di SBB kemarin, di mana muncul pemberitaan bahwa 'Pastori dibakar'. Menggunakan diksi seperti itu bisa memicu tafsiran yang sangat berbeda di masyarakat dibandingkan jika narasinya disebut 'rumah-rumah terbakar'. Hal-hal sensitif seperti ini yang harus kita antisipasi dengan langkah deteksi dini bersama BINDA (Badan Intelijen Negara Daerah) dan FKUB," tegasnya.
Merespons usulan pembentukan desa perdamaian, Bodewin mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Ambon sebenarnya telah melangkah jauh dengan menggandeng Kementerian Agama serta akademisi dari IAKN dan UKIM. Saat ini, sudah ada 6 hingga 7 Desa Toleransi yang berjalan di Kota Ambon.Desa dan kelurahan seperti Waeheru, Nania, Wayame, Lata, Passo, hingga Kelurahan Nusaniwe disebut sebagai "Laboratorium Hidup" di mana keberagaman di dalamnya berjalan indah."Bagi wilayah yang masyarakatnya sudah terlokalisir atau homogen, ya sudah kita jalani saja yang ada dan tidak perlu dipaksakan. Yang terpenting adalah menanamkan pemahaman bahwa kita tidak hidup sendiri di Ambon, melainkan hidup dalam kebersamaan," tambahnya.
Salah satu rekomendasi krusial dari rapat koordinasi ini adalah mendorong FKUB untuk masuk ke institusi pendidikan. Tokoh-tokoh agama didorong menjadi pembina atau inspektur upacara di sekolah-sekolah guna memberikan edukasi langsung kepada siswa dan guru. Langkah ini diambil untuk membentengi generasi muda dari ancaman kenakalan remaja seperti balap liar, narkoba, minuman keras (miras), hingga tawuran antarpelajar."Kita yang ada sekarang pada waktunya akan lewat dari peredaran. Anak-anak muda inilah yang akan menggantikan kita memimpin kota ini. Mereka harus paham bahwa kita ini saling membutuhkan," cetus Walikota.
Sebagai penutup, Bodewin menawarkan solusi kultural lokal Maluku, yakni dengan menghidupkan kembali tradisi Panas Pela atau Panas Gandong di kalangan anak muda, berkaca pada kesuksesan ikatan Pela antara Galala dan Hatiwe/Hitu yang digelar beberapa waktu lalu."Anak muda hari ini lahir tidak saat Pela itu pertama kali dibuat, sehingga mereka tidak paham latar belakang sejarahnya. Jika kita pelajari sejarah Pela Gandong, esensinya tidak pernah mengajarkan kita untuk saling serang atau saling bakar. Tidak ada untungnya saling membunuh yang pada akhirnya hanya menyisakan penyesalan. Hubungan adat inilah yang mengikat kita dalam perdamaian," pungkas Bodewin menutup wawancara.








































Komentar via Facebook