Refleksi Pendidikan 30 Tahun Lalu, Luther Toon Rahajaan: Dari “Disiplin Keras” ke Era Digital di Hardiknas 2026
Refleksi Pendidikan 30 Tahun Lalu, Luther Toon Rahajaan: Dari “Disiplin Keras” ke Era Digital di Hardiknas 2026
Langgur, Tribunnusantara-web.id Moderator Dialog Pendidikan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Luther Toon Rahajaan, mengajak peserta menengok kembali wajah pendidikan masa lalu sebagai pijakan memahami transformasi pendidikan saat ini.
Dalam sambutannya di Lapangan Apel Dinas Pendidikan Maluku Tenggara, Rabu (29/4/2026), ia menegaskan bahwa semangat membangun kualitas pendidikan di wilayah kepulauan lahir dari kerinduan bersama seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, sekitar 30 tahun lalu, pendidikan di wilayah kepulauan seperti Maluku Tenggara penuh dengan keterbatasan dan tantangan berat. Akses informasi sangat terbatas, bahkan bahan belajar utama saat itu hanya mengandalkan buku seperti RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap).
“Dulu pendidikan itu terasa menantang bahkan menakutkan. Disiplin keras menjadi hal biasa, baik di rumah maupun di sekolah. Tapi semua itu dilakukan dengan tujuan membentuk karakter dan masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Ia juga menggambarkan perjuangan generasi terdahulu di Pulau Kei Besar yang harus menempuh perjalanan ekstrem demi melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.
Perjalanan panjang dengan berjalan kaki, menyeberang laut menggunakan sampan, bahkan mempertaruhkan nyawa menjadi bagian dari realitas pendidikan masa itu.
“Bayangkan, hanya untuk sekolah, mereka harus berjalan dari kampung ke kampung, menyeberang laut, bahkan bermalam di perjalanan. Itu bukti betapa besar semangat belajar generasi sebelumnya,” katanya.
Meski penuh keterbatasan, Luther menyebut generasi tersebut justru berhasil dan kini banyak yang menjadi tokoh penting di Maluku Tenggara maupun Kota Tual.
Berbeda dengan kondisi saat ini, ia menilai transformasi pendidikan telah berkembang pesat seiring kemajuan teknologi. Akses informasi kini semakin mudah dengan kehadiran internet dan berbagai platform digital seperti Google Search dan ChatGPT, yang memungkinkan siswa belajar dari mana saja.
Tak hanya itu, pemerintah daerah juga mulai mendorong digitalisasi layanan pendidikan. Salah satunya melalui peluncuran aplikasi MPS Smart oleh Dinas Pendidikan Maluku Tenggara.
“Aplikasi ini mempermudah guru dalam administrasi, mulai dari penilaian kinerja, kenaikan pangkat, hingga pengelolaan pembelajaran. Ini bukti keseriusan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan,” jelasnya.
Dalam forum tersebut, Luther juga menekankan pentingnya strategi transformasi pendidikan berbasis keadilan sosial, khususnya di wilayah kepulauan yang masih menghadapi keterbatasan fiskal dan tantangan geografis.
Dialog pendidikan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai unsur, mulai dari Dinas Pendidikan, tokoh masyarakat, hingga Kementerian Agama, untuk membahas solusi konkret dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Maluku Tenggara.
Ia berharap, melalui dialog tersebut, lahir gagasan dan langkah nyata untuk memastikan pendidikan yang merata, berkualitas, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat di wilayah kepulauan.
"Elang"








































Komentar via Facebook