Rekrutmen Polri Disorot, Mercy Chriesty Barends Sentil Percaloan dan Tuntut Transparansi Nyata
Rekrutmen Polri Disorot, Mercy Chriesty Barends Sentil Percaloan dan Tuntut Transparansi Nyata
Jakarta, Tribunnusantara-web.id Praktik percaloan dalam rekrutmen Polri kembali menjadi sorotan. Anggota Komisi III DPR RI, Mercy Chriesty Barends, secara tegas mengkritik lemahnya transparansi dan akuntabilitas dalam proses seleksi calon aparat.
Dalam Rapat Dengar Pendapat pada 2 Maret 2026, Mercy menilai persoalan rekrutmen bukan sekadar isu teknis, melainkan menyangkut kredibilitas institusi.
Ia menegaskan, peningkatan anggaran tidak boleh diberikan tanpa perbaikan kinerja yang nyata.
“Jika praktik percaloan masih terjadi, maka ada yang salah dalam sistem. Ini bukan hanya soal pelanggaran, tapi soal keadilan yang dirampas,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak serius bagi peserta dari wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang kerap tersingkir bukan karena kurang kompeten, melainkan karena sistem yang tidak berpihak pada meritokrasi.
Lebih jauh, Mercy mengingatkan bahwa lembaga pendidikan kepolisian harus steril dari praktik diskriminatif.
Akademi Kepolisian dan Lemdiklat Polri, menurutnya, tidak boleh menjadi ruang yang mencederai prinsip kesetaraan.
Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI pun mengajukan sejumlah tuntutan tegas: reformasi total sistem rekrutmen, penerapan seleksi berbasis Computer Assisted Test (CAT) yang bebas intervensi, hingga pembentukan hotline pengaduan yang benar-benar responsif—bukan sekadar formalitas.
Desakan ini menjadi sinyal kuat bahwa pembenahan Polri tidak bisa lagi ditunda.
Tanpa transparansi dan integritas dalam rekrutmen, upaya mencetak aparat profesional hanya akan menjadi slogan tanpa makna.
"Elang"








































Komentar via Facebook