Rumah Subsidi Rp185 Juta Segera Dibangun di Maluku Tenggara, Pemda dan Pengembang Janjikan Hunian Layak dengan Konsep Lebih Manusiawi

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 20 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Rumah Subsidi Rp185 Juta Segera Dibangun di Maluku Tenggara, Pemda dan Pengembang Janjikan Hunian Layak dengan Konsep Lebih Manusiawi

Rumah Subsidi Rp185 Juta Segera Dibangun di Maluku Tenggara, Pemda dan Pengembang Janjikan Hunian Layak dengan Konsep Lebih Manusiawi

Langgur, Tribunnusantara-web.id  — Harapan masyarakat berpenghasilan rendah di Kabupaten Langgur untuk memiliki rumah layak huni mulai menemukan titik terang. Program rumah subsidi melalui skema Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR-FLPP) dipastikan segera dibangun di Maluku Tenggara dengan harga per unit sekitar Rp185 juta.

Kepastian itu disampaikan dalam Sosialisasi Rumah Subsidi KPR-FLPP yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Selasa (19/5/2026).

Mewakili pengembang CV IT5, Esebius Utha Savsavubun mengungkapkan proyek perumahan rakyat tersebut akan dibangun di kawasan Puncak Kolser di atas lahan seluas 20.480 meter persegi atau lebih dari dua hektare.

Menariknya, konsep hunian yang ditawarkan berbeda dari kebanyakan rumah subsidi di sejumlah daerah yang identik dengan bangunan sempit dan berdempetan. Di Maluku Tenggara, pengembang justru mengklaim mengusung konsep hunian yang lebih layak dan nyaman bagi masyarakat.

“Kalau di daerah lain kebanyakan rumah deret, di sini satu rumah berdiri sendiri dengan jarak antar rumah sekitar dua meter,” ujar Utha di hadapan peserta sosialisasi.

Rumah yang akan dibangun merupakan tipe 36 dengan luas tanah 8 x 12 meter. Bangunan dirancang memiliki tinggi sekitar 3,75 meter dengan fondasi setinggi 50 sentimeter guna menyesuaikan kondisi lingkungan dan ketahanan bangunan.

Tak hanya fokus pada pembangunan rumah, kawasan tersebut juga disebut akan dilengkapi infrastruktur penunjang seperti jalan paving block selebar enam meter, lorong lima meter, jaringan listrik, air bersih, hingga ruang terbuka hijau.

Menurut Utha, dukungan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara terhadap proyek ini cukup serius, terutama dalam penyediaan infrastruktur dasar.

“Pak Bupati memberi perhatian penuh terhadap program ini. PDAM juga sudah diminta menyiapkan jaringan air bersih,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa harga rumah subsidi sebesar Rp185 juta bukan angka permanen. Kondisi ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar dolar disebut berpotensi memengaruhi kenaikan harga material bangunan.

“Kalau tidak ambil sekarang, ke depan bisa saja harganya naik,” ujarnya.

Program ini menjadi bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) pemerintah pusat dalam target pembangunan tiga juta rumah bagi masyarakat Indonesia.

Karena itu, pihak pengembang berharap proses administrasi dan dukungan sektor perbankan tidak berjalan lambat agar pembangunan fisik dapat segera direalisasikan.

Utha bahkan menyinggung sejumlah daerah lain di kawasan Maluku yang dinilai sudah bergerak lebih cepat dalam pembangunan rumah subsidi, sementara Maluku Tenggara masih berada pada tahap persiapan meski lahan telah tersedia.

“Kami berharap prosesnya dipercepat supaya masyarakat tidak terlalu lama menunggu dan segera merasakan manfaat program ini,” tegasnya.

Meski hadir memberikan penjelasan kepada publik, Utha menegaskan dirinya hanya mewakili Direktur CV IT5, Muhammad Tadi Salam Fisi, yang berhalangan hadir karena agenda di Jakarta.

Program rumah subsidi ini dipandang sebagai peluang besar bagi masyarakat kecil di Maluku Tenggara yang selama ini kesulitan memperoleh rumah layak dengan harga terjangkau di tengah meningkatnya biaya hidup dan harga material bangunan.

Editor: Bruce Elang