Saat Banyak Hanya Mengeluh, Pemuda Asal Jawa Ini Turun ke Selokan Selamatkan Jalan di Timika
Saat Banyak Hanya Mengeluh, Pemuda Asal Jawa Ini Turun ke Selokan Selamatkan Jalan di Timika
TIMIKA, PAPUA TENGAH, Tribunnusantara-web.id Ketika banjir kecil kembali melumpuhkan akses Jalan Hasanuddin menuju Irigasi Ujung, banyak orang hanya menonton, mengeluh, atau sibuk menyalahkan pemerintah,Tapi tidak punya etika kesedaran.09/05/2026
Namun di tengah sikap masa bodoh itu, seorang pemuda asal Jawa bernama Saefudin justru memilih turun langsung ke selokan kotor demi kepentingan masyarakat.
Tanpa rompi dinas.
Tanpa proyek.
Tanpa pencitraan.
Bermodal sebatang dahan pohon, Saefudin mengorek sampah dan lumpur yang menyumbat drainase di sepanjang jalan tersebut. Aksi sederhana tetapi penuh keberanian itu sontak menjadi perhatian warga karena dilakukan di saat banyak pihak justru memilih diam melihat jalan tergenang.
Pemandangan ini seakan menjadi tamparan keras bagi kesadaran publik tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Sebab persoalan drainase mampet sebenarnya bukan semata soal pemerintah, tetapi juga akibat kebiasaan membuang sampah sembarangan yang terus dibiarkan.
Saat sebagian orang sibuk lewat sambil menutup kaca mobil, Saefudin justru berdiri di tengah genangan dan lumpur demi membuka aliran air yang tersumbat.
Dan hasilnya nyata.
Air yang sebelumnya menggenangi badan jalan perlahan surut. Akses menuju Irigasi Ujung kembali normal. Aktivitas warga kembali berjalan lancar.
Ironisnya, pekerjaan yang seharusnya menjadi perhatian bersama justru dilakukan sendiri oleh seorang warga biasa dengan alat seadanya.
Tokoh masyarakat Dianu Omaleng pun memberikan apresiasi tinggi atas tindakan tersebut. Ia menyebut aksi Saefudin sebagai contoh nyata kepedulian sosial yang melampaui sekat suku dan daerah asal.
“Ini tindakan yang sangat mulia. Dengan alat sederhana saja dia bisa membantu masyarakat banyak. Ini bukti bahwa kepedulian tidak perlu menunggu jabatan atau kekuasaan,” tegasnya.
AksiSaefudin kini menjadi simbol bahwa kepedulian masih hidup di tengah semakin pudarnya budaya gotong royong. Di saat banyak orang menuntut perubahan, pemuda ini justru memilih menjadi bagian dari solusi.
Lebih dari sekadar membersihkan selokan, tindakan Saefudin telah membuka mata publik:
bahwa satu orang yang peduli lebih berharga daripada seribu orang yang hanya pandai mengkritik tanpa bergerak.
“Amolongo Nimao Witimi sapa.”
(*****)








































Komentar via Facebook