Satgas Operasi Trisila-26 Bersih-bersih Gereja, Merawat Kemanunggalan di Kota Tual

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 03 Maret 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Satgas Operasi Trisila-26 Bersih-bersih Gereja, Merawat Kemanunggalan di Kota Tual

Tual, TribunNusantara.web.id | Pagi belum sepenuhnya beranjak ketika seragam loreng biru itu mulai memenuhi halaman Gereja Sion, Kota Tual, Maluku, Senin, 2 Maret 2026. Di bawah langit yang cerah, puluhan prajurit Satuan Tugas Operasi Trisila TNI Angkatan Laut ke-26 tahap I bersama personel Pangkalan TNI AL (Lanal) Tual bergotong royong membersihkan rumah ibadah tersebut.

Tak ada aba-aba keras pagi itu. Yang terdengar hanya gesekan sapu lidi di pelataran, bunyi air mengalir dari selang, serta canda ringan di sela pekerjaan. Halaman gereja disapu bersih, rumput liar dirapikan, fasilitas umum dibersihkan, dan lingkungan sekitar ditata ulang agar tampak lebih rapi dan nyaman.

Komandan Lanal Tual dalam keterangannya menyebut kegiatan karya bakti ini merupakan bagian dari rangkaian Operasi Trisila-26 yang tidak semata berfokus pada aspek pengamanan wilayah perairan, tetapi juga penguatan kemanunggalan TNI dengan rakyat.

“Kami ingin hadir bukan hanya sebagai aparat pertahanan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat,” ujarnya.

Operasi Trisila sendiri merupakan agenda rutin Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut di wilayah timur Indonesia, khususnya daerah kepulauan yang memiliki karakter geografis dan sosial yang beragam. Di Maluku—wilayah yang pernah mengalami ketegangan komunal pada masa lalu—kegiatan semacam ini memuat pesan simbolik yang kuat: merawat harmoni melalui tindakan sederhana.

Bagi warga sekitar, kehadiran prajurit di halaman gereja bukan sekadar kegiatan bersih-bersih. Seorang pengurus gereja menyebut aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian yang menenangkan.

“Kami merasa diperhatikan. Ini bukan soal besar-kecilnya pekerjaan, tapi tentang kebersamaan,” katanya.

Karya bakti hari ketiga ini juga menjadi ruang perjumpaan lintas identitas. Di kota yang mayoritas penduduknya hidup berdampingan dalam keberagaman agama dan budaya, kerja kolektif seperti ini mempertebal sikap tenggang rasa. Prajurit dan warga berdiri sejajar—tanpa sekat—dengan tujuan yang sama: menciptakan lingkungan ibadah yang bersih dan layak.

Di tengah berbagai tantangan sosial dan ekonomi di kawasan kepulauan, pendekatan humanis aparat negara kerap menjadi jembatan penting. Operasi militer selain perang, termasuk karya bakti, pada akhirnya berbicara tentang kehadiran negara dalam wajah yang lebih membumi.

Saat matahari mulai meninggi, halaman Gereja Sion tampak lebih bersih. Namun yang lebih penting, pagi itu meninggalkan jejak lain—sebuah pengingat bahwa kemanunggalan tak selalu lahir dari pidato panjang, melainkan dari sapu yang digerakkan bersama.