Seabad Injil di Rerean, Wabup Charlos Viali Rahantoknam Resmikan Tugu Bersejarah: Iman Harus Hidup dalam Persaudaraan dan Pembangunan!

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 10 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Seabad Injil di Rerean, Wabup Charlos Viali Rahantoknam Resmikan Tugu Bersejarah: Iman Harus Hidup dalam Persaudaraan dan Pembangunan!

LANGGUR, Tribunnusantara-web.id  — Satu abad perjalanan Injil di Jemaat Rerean, Maluku Tenggara, menjadi momentum bersejarah yang bukan hanya mengingatkan masyarakat akan perjuangan para pewarta Injil, tetapi juga menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan, melestarikan nilai adat, serta membangun masa depan generasi muda.

Wakil Bupati Maluku Tenggara, Charlos Viali Rahantoknam, mewakili Bupati Muhamad Thaher Hanubun, secara resmi meresmikan Tugu Peringatan 100 Tahun Masuknya Injil di Jemaat Rerean.

Peresmian tugu tersebut menjadi penanda perjalanan panjang iman masyarakat sekaligus penghormatan kepada para pendahulu yang telah menaburkan benih Injil, menguatkan kehidupan jemaat, dan mewariskan nilai-nilai spiritual kepada generasi penerus.

Namun, makna peringatan satu abad ini tidak semestinya berhenti pada seremoni peresmian ataupun berdirinya sebuah monumen. Sejarah harus tetap hidup melalui keteladanan, pelayanan, kepedulian sosial, dan tindakan nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat.10/10/26

    Wabup: Seratus Tahun Bukan Perjalanan Singkat

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam menyampaikan rasa syukur atas perjalanan satu abad iman Jemaat Rerean yang tetap bertahan dan berkembang hingga saat ini.

"Seratus tahun bukan waktu singkat. Ini bukti kesetiaan Tuhan dan buah dari pengorbanan para pewarta Injil, guru jemaat, dan tokoh adat yang menabur benih iman di tanah Evav," ujar Charlos.

Menurutnya, tugu yang diresmikan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol sejarah dan pengingat perjalanan iman yang harus diwariskan dari generasi ke generasi.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberadaan tugu memiliki nilai historis dan spiritual yang perlu dijaga bersama. Pengorbanan para pendahulu harus menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus memelihara kehidupan beragama, memperkuat solidaritas, dan membangun lingkungan yang harmonis.

   Ain Ni Ain dan Larvul Ngabal Harus Terus Menjadi Pegangan

Dalam momentum bersejarah tersebut, Wakil Bupati menekankan pentingnya merawat persaudaraan melalui falsafah **Ain Ni Ain** dan nilai-nilai hukum adat **Larvul Ngabal** yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Kei.

Menurutnya, iman dan adat harus saling menguatkan dalam menjaga kerukunan, menghormati sesama, serta memelihara perdamaian di Maluku Tenggara.

Pesan ini memiliki arti penting di tengah kehidupan masyarakat yang beragam. Perbedaan latar belakang, pandangan, maupun kepentingan tidak boleh menjadi alasan untuk merusak ikatan persaudaraan yang telah diwariskan para leluhur.

Sebaliknya, nilai-nilai iman dan adat harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk melalui sikap saling menghargai, menyelesaikan persoalan secara bermartabat, dan mengutamakan kepentingan bersama.

    Pembangunan Tidak Boleh Berhenti pada Seremoni

Selain menekankan rasa syukur dan persaudaraan, Charlos juga mengingatkan pentingnya membangun masa depan melalui kerja nyata.

Ia menyampaikan bahwa iman harus diwujudkan dalam pendidikan anak, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah, menurutnya, berkomitmen untuk hadir memberikan pelayanan pembangunan hingga ke kampung-kampung.

Komitmen tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan harus dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk warga di wilayah kampung dan pelosok.

Pembangunan manusia, akses pendidikan, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan merupakan bagian penting yang perlu berjalan beriringan dengan pelestarian nilai keagamaan dan kebudayaan.

Karena itu, momentum seabad Injil di Rerean patut dijadikan kesempatan untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah, gereja, tokoh adat, dan masyarakat dalam menjawab kebutuhan generasi penerus.

* Tugu dapat menjadi saksi sejarah, tetapi kualitas manusia dan kuatnya persaudaraan merupakan warisan yang harus terus diperjuangkan.**

    Generasi Muda Rerean Diminta Menjaga Warisan Iman

Wakil Bupati juga menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda Rerean agar bangga terhadap sejarah kampung dan perjalanan iman yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton dalam perayaan sejarah. Mereka harus mengambil bagian dalam menjaga kehidupan rohani, melestarikan budaya, memperkuat persaudaraan, serta meningkatkan kemampuan diri melalui pendidikan dan keterampilan.

Tantangan zaman menuntut generasi muda untuk maju tanpa kehilangan jati diri. Nilai iman, penghormatan terhadap adat, dan semangat persatuan harus menjadi fondasi dalam menghadapi perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta persaingan masa depan.

Seratus tahun pertama merupakan perjalanan yang telah ditorehkan para pendahulu. Sementara itu, tanggung jawab membangun seratus tahun berikutnya berada di tangan generasi penerus.

   Sejalan dengan Konstitusi dan Pemajuan Kebudayaan

Semangat menjaga kehidupan beragama dan melestarikan nilai adat sejalan dengan sejumlah landasan hukum nasional.

Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa serta jaminan negara terhadap kemerdekaan penduduk untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya.

Sementara itu, Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 mengatur pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sesuai ketentuan konstitusi.

Upaya menjaga warisan budaya juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menjadi landasan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Adapun pembangunan pendidikan dan sumber daya manusia memiliki landasan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Landasan tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga kebebasan beragama, menghormati kebudayaan, dan memperkuat pendidikan sebagai bagian dari pembangunan masyarakat yang bermartabat.

   Tugu Diresmikan, Tanggung Jawab Bersama Berlanjut

Mengakhiri sambutannya, Wakil Bupati Charlos Viali Rahantoknam secara resmi menyatakan Tugu Peringatan 100 Tahun Masuknya Injil di Jemaat Rerean diresmikan.

"Dengan mengucap syukur kepada Tuhan, Tugu 100 Tahun Injil Masuk Jemaat Rerean saya nyatakan diresmikan," tutup Charlos.

Peresmian tersebut menjadi momen penting bagi Jemaat Rerean dan masyarakat Maluku Tenggara untuk mengenang perjalanan iman sekaligus memperkuat komitmen menjaga warisan sejarah.

Pada akhirnya, makna seabad Injil tidak hanya diukur dari berdirinya sebuah tugu, tetapi juga dari kemampuan masyarakat meneruskan nilai kasih, persaudaraan, kejujuran, dan pengabdian kepada sesama.

**Sejarah harus dijaga, iman harus diwujudkan, adat harus dihormati, dan generasi muda harus dipersiapkan. Itulah tanggung jawab bersama agar warisan seratus tahun Injil di Rerean tetap hidup dan memberi makna bagi masa depan.**

**Editor: Bruce Elang**