Sedekah Bumi 2026 Bandengan Hadirkan Wayang Kulit Lakon “Wisanggeni Gugat”

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 22 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Sedekah Bumi 2026 Bandengan Hadirkan Wayang Kulit Lakon “Wisanggeni Gugat”

Sedekah Bumi 2026 Bandengan Hadirkan Wayang Kulit Lakon “Wisanggeni Gugat”

JEPARA Tribunnusantara-web.id — Pemerintah Desa Bandengan, Kecamatan Jepara, menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon legendaris “Wisanggeni Gugat” yang dibawakan dalang Ki Sasmito Cokro, Jumat malam (22/5/2026) di halaman Balai Desa Bandengan.

Pagelaran budaya tersebut menjadi puncak rangkaian Sedekah Bumi Desa Bandengan Tahun 2026 yang rutin dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil bumi, keselamatan, serta keberkahan desa.

Kepala Desa Bandengan, Sumadi, menegaskan Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum memperkuat persatuan warga sekaligus menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Sedekah bumi adalah wujud rasa syukur masyarakat kepada Ibu Pertiwi Desa Bandengan. Melalui kegiatan ini kita menjaga adat istiadat, mempererat silaturahmi, serta mewujudkan desa yang berkah. Ini bagian dari nguri-uri budaya leluhur agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Sumadi.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Kamis malam (21/5/2026) dengan pengajian umum bersama KH Ahmad Nasikhin dari Mlonggo, Jepara. Kemudian pada Jumat pagi dilaksanakan selamatan dan barikan apem sebagai simbol doa, rasa syukur, dan kebersamaan masyarakat.

Puncak acara berlangsung pada Jumat malam melalui pertunjukan wayang kulit dengan lakon “Wisanggeni Gugat”, kisah pewayangan yang sarat pesan moral tentang keberanian, kejujuran, dan perjuangan menegakkan kebenaran.

Dalam cerita tersebut, tokoh Wisanggeni digambarkan sebagai sosok muda yang berani mengkritik ketidakadilan dan kemunafikan. Meski dikenal keras dan tegas, karakter Wisanggeni mencerminkan jiwa ksatria yang disiplin, pekerja keras, sportif, serta memiliki keberpihakan kuat terhadap nilai kejujuran dan keadilan.

Dalang Ki Sasmito Cokro menjelaskan bahwa lakon tersebut menggambarkan pergulatan moral seorang pemuda yang tidak tinggal diam ketika melihat penyimpangan dalam kehidupan maupun pemerintahan.

“Wisanggeni adalah simbol generasi muda yang menginginkan kejujuran dan kebenaran. Ia memang dikenal keras, tetapi hatinya lurus dan tidak suka kemunafikan. Pesannya, kebenaran pada akhirnya akan terbukti oleh waktu,” ungkapnya.

Melalui pertunjukan itu, masyarakat diajak memahami bahwa wayang kulit bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan media pendidikan budaya yang mengandung nilai tuntunan, etika, kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan keberanian moral.

Pagelaran tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa masyarakat Desa Bandengan tetap memegang teguh identitas budaya Jawa sebagai kearifan lokal yang harus dijaga di tengah arus modernisasi, globalisasi, dan perkembangan era digital.

Acara terbuka untuk umum dan dihadiri masyarakat Desa Bandengan serta warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Jepara. Selain menjadi hiburan tradisional, Sedekah Bumi Bandengan diharapkan mampu memperkuat persaudaraan warga sekaligus menjaga pelestarian seni budaya adi luhung sebagai warisan leluhur.

Hani K