Sedekah Bumi Karimunjawa 2026: Arif Setiawan Sindir Krisis Moral dan Keserakahan Manusia

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 07 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Sedekah Bumi Karimunjawa 2026: Arif Setiawan Sindir Krisis Moral dan Keserakahan Manusia

Sedekah Bumi Karimunjawa 2026: Arif Setiawan Sindir Krisis Moral dan Keserakahan Manusia

KARIMUNJAWA, Jepara Tribunnusantara-web.id Malam Sedekah Bumi Desa Karimunjawa tahun 2026 berubah menjadi panggung kritik sosial yang tajam terhadap krisis moral, kerakusan manusia, dan lunturnya jati diri bangsa.07/05/2026

Di tengah suara gamelan dan kidung Jawa yang menggema dari kawasan makam leluhur Mbah Danang Djoyo, Petinggi Desa Karimunjawa, Arif Setiawan, menegaskan bahwa manusia modern mulai kehilangan arah hidup karena diperbudak ambisi, kekuasaan, dan nafsu dunia.

Pagelaran wayang kulit dengan lakon Anoman Tiwikromo yang dibawakan dalang KRT Hendro Suryo Kartika bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan sindiran keras terhadap kondisi sosial yang semakin dipenuhi kesombongan, ketamakan, dan hilangnya kepedulian terhadap sesama maupun alam.

“Manusia hari ini banyak yang lupa diri. Merasa paling hebat, rakus terhadap kekuasaan, rakus terhadap uang, tetapi kehilangan hati nurani. Padahal hidup hanya sementara,” tegas Arif Setiawan dalam sambutannya.

Menurutnya, tradisi sedekah bumi bukan ritual kosong, melainkan pengingat keras bahwa manusia tidak boleh hidup hanya mengejar dunia hingga melupakan Tuhan, budaya, dan kemanusiaan.

Dalam kisah pewayangan itu, Anoman digambarkan menghadapi musuh paling berbahaya bukan raksasa, melainkan hawa nafsunya sendiri — kesombongan, amarah, kerakusan, dan ego yang mampu menghancurkan kehidupan manusia.

Pesan itu dinilai sangat relevan dengan kondisi zaman saat ini ketika banyak orang berlomba mengejar jabatan dan kekayaan tanpa mempedulikan moral, amanah, bahkan penderitaan rakyat kecil.

Lakon tersebut juga menyindir manusia yang terus mengeksploitasi alam tanpa kesadaran. Ketika manusia kehilangan rasa syukur dan hanya dikuasai keserakahan, alam pada akhirnya akan “melawan” melalui berbagai bencana dan kerusakan kehidupan.

Tokoh adat setempat, Mbah Yanto, mengatakan bahwa leluhur Jawa sejak dahulu sudah mengingatkan agar manusia hidup sederhana, menjaga hati, serta tidak serakah terhadap dunia.

“Kalau manusia kehilangan rasa syukur dan lupa menjaga alam, kehidupan akan kehilangan berkah. Kerusakan itu bukan datang tiba-tiba, tetapi lahir dari perilaku manusia sendiri,” ujarnya.

Pagelaran semalam suntuk itu menjadi tamparan moral bahwa bangsa yang besar tidak dibangun dengan kemewahan dan pencitraan semata, melainkan melalui kejujuran, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan pemimpin yang benar-benar mengabdi kepada rakyat.

Di malam Sedekah Bumi 2026 itu, Karimunjawa tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga menyuarakan perlawanan terhadap krisis moral yang perlahan menggerus kesadaran manusia.

Hani K