Sekolah dan Perguruan Tinggi (Bukan) Pencetak Generasi Anarkis

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 04 September 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Sekolah dan Perguruan Tinggi (Bukan) Pencetak Generasi Anarkis

Oleh : Bambang Chaspo

 

OPINI : TribunNusantara.web.id | Di negeri ini, sekolah dan perguruan tinggi sering dituding gagal mendidik anak bangsa. Setiap kali ada kerusuhan, setiap kali ada aksi anarkis, jari telunjuk segera diarahkan: “Lihat, itu karena pendidikan kita gagal!”

Padahal, mari kita jujur. Kalau benar sekolah dan kampus kita adalah pabrik pencetak anarkis, maka ijazah seharusnya sudah diganti dengan sertifikat kelulusan demo—lengkap dengan nilai kelayakan melempar batu, indeks prestasi akademik merusak fasilitas umum, dan skripsi bertema “Strategi Menghancurkan Gedung DPRD dengan Anggaran Minimalis”.

Ironisnya, justru di bangku sekolah dan kuliah anak-anak diajari soal Pancasila, gotong royong, toleransi, hingga pendidikan karakter.

Hanya saja, di luar pagar sekolah, mereka juga disuguhi tontonan politik gaduh, pejabat saling serang, bahkan aparat dan elit sendiri kadang memberi contoh buruk soal hukum.

Maka jangan heran, pelajaran “taat aturan” sering kalah pamor dibanding realitas di televisi dan media sosial.

Lalu, masihkah kita tega menuding guru dan dosen sebagai dalang? Seorang guru mungkin hanya menggenggam spidol, bukan pentungan.

Seorang dosen hanya sibuk mengoreksi makalah, bukan mengorganisir tawuran. Namun masyarakat kerap melupakan pendidikan bukan hanya urusan sekolah atau perguruan tinggi, melainkan ekosistem.

Apa gunanya guru bercerita soal etika kalau di rumah, orang tua menormalisasi kekerasan, dan di jagat digital, anak-anak dijejali konten provokatif yang lebih seru daripada soal ujian?

Sekolah dan perguruan tinggi jelas bukan pencetak generasi anarkis. Yang mencetak anarkis justru kombinasi antara lingkungan permisif, dunia maya yang bising, dan minimnya keteladanan elite di panggung kekuasaan.

Kalau terus menyalahkan sekolah, jangan kaget suatu hari universitas akan mengubah fakultas hukum menjadi fakultas hukum rimba, dan jurusan pendidikan karakter berganti nama menjadi jurusan cara tercepat memprovokasi massa. Ya...Tapi kalau tak segera sadar, bisa-bisa jadi kenyataan.