Senyap Genderang Terakhir di Elar Ngursoin: Serka Mohtar Ohoirat Pulang dengan Kehormatan

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 03 Maret 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Senyap Genderang Terakhir di Elar Ngursoin: Serka Mohtar Ohoirat Pulang dengan Kehormatan

Langgur, TribunNusantara.web.id | Langit di Desa Elar Ngursoin, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, di Kabupaten Maluku Tenggara, seperti menahan mendung yang tak kunjung jatuh. Senin, 2 Maret 2026, halaman pemakaman desa itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang prajurit dipulangkan dengan segala kehormatan yang pernah ia jaga sepanjang hidupnya.

Serka Mohtar Ohoirat, prajurit TNI Angkatan Darat dari Kodim 1503/Tual, dimakamkan secara militer dalam upacara yang berlangsung tertib, khidmat, dan menyayat. Dentang komando terdengar tegas, tetapi di sela-selanya ada isak yang tak mampu disembunyikan.

Upacara penghormatan terakhir dipimpin Danramil 1503-01/Tual, Kapten Inf Musa Renyaan, sebagai Inspektur Upacara. Di bawah komando yang terukur, para prajurit berdiri tegak. Senapan ditundukkan dalam penghormatan. Setiap gerak terasa lambat, seakan memberi waktu bagi kenangan untuk berpamitan.

Hadir dalam upacara itu Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun, Ketua DPRD Kabupaten Maluku Tenggara Stepanus Layanan, keluarga besar Kodim 1503/Tual, serta Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXVI. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas protokoler. Ia adalah tanda bahwa seorang prajurit tidak pernah benar-benar sendiri—bahwa pengabdiannya dicatat, dan kepergiannya dirasakan.

Amanat Dandim 1503/Tual, Letkol Inf Andi Agussalim, yang dibacakan Inspektur Upacara, menyebut almarhum sebagai sosok prajurit yang menunjukkan dedikasi dan loyalitas tanpa banyak kata. Ia bekerja dalam senyap, menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Tak ada sorotan, tak ada gemuruh tepuk tangan—hanya tanggung jawab yang ditunaikan hari demi hari.

Serka Mohtar wafat karena sakit. Namun duka yang tertinggal jauh lebih luas dari sebab kepergiannya. Ia meninggalkan keluarga yang kini harus belajar merelakan, rekan-rekan seperjuangan yang kehilangan satu barisan, serta masyarakat yang mengenalnya sebagai pribadi sederhana dan bersahaja.

Rangkaian upacara mencapai puncaknya saat bendera Merah Putih yang menyelimuti peti jenazah dilipat dengan cermat. Kain itu kemudian diserahkan kepada keluarga—sebuah simbol bahwa negara mengakui setiap tetes pengabdian yang pernah ia berikan. Di momen itu, kesunyian terasa lebih nyaring dari suara apa pun.

Tak ada yang berlebihan dalam prosesi itu. Semua berjalan sesuai tata upacara militer. Namun justru dalam keteraturan itulah terasa betapa dalam kehilangan ini. Seorang anak bangsa telah menyelesaikan tugasnya. Seorang prajurit telah menunaikan sumpahnya hingga akhir.

Di Elar Ngursoin, pagi itu, tanah dibuka perlahan untuk menerima kembali tubuh yang pernah berdiri gagah membela negeri. Genderang terakhir telah ditabuh. Dan Serka Mohtar Ohoirat pulang—dengan kehormatan, dengan doa, dan dengan air mata yang tak selesai-selesai.