SETYA KITA PANCASILA: BENTENG TERAKHIR JATI DIRI BANGSA DI TENGAH GEMPURAN GLOBALISASI

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 17 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

SETYA KITA PANCASILA: BENTENG TERAKHIR JATI DIRI BANGSA DI TENGAH GEMPURAN GLOBALISASI

Tual,Tribun-nusantara.web.id. Oleh,Golkarianus Ubra,S.Pd, CPSE. Ketua DPD SKP Kota Tual - Maluku_

Dunia dalam genggaman, batas budaya kian kabur. Globalisasi menyodorkan kemudahan sekaligus ancaman: identitas bangsa bisa luntur tanpa kita sadari. Di titik inilah, Setya Kita Pancasila (SKP) berdiri sebagai penjaga akar kebangsaan.

Internet dan medsos membuat budaya asing, gaya hidup, hingga nilai-nilai luar bebas masuk ke ruang keluarga kita. Ada manfaat: ilmu makin mudah, ekonomi terbuka lebar. Tapi ada bahaya nyata: individualisme menggerus gotong royong, konsumerisme mengikis kesederhanaan, dan generasi muda lebih hafal tren luar ketimbang sejarah bangsanya sendiri.

Jika dibiarkan, Indonesia bisa kena krisis identitas. Persatuan rapuh, ketahanan nasional goyang.

Pancasila lahir dari kristalisasi adat, budaya, dan kearifan lokal berabad-abad. Ia bukan sekadar teks politik, tapi DNA bangsa. Bedanya kita dengan bangsa lain ya di situ.

Masalahnya, nilai luhur ini sering kalah pamor dengan budaya populer asing. Di sinilah SKP ambil peran: bukan hanya jadi organisasi, tapi gerakan moral yang mengajak semua elemen bangsa kembali setia pada nilai dasar kehidupan bernegara.

5 PERAN KUNCI SKP DI ERA DIGITAL  

1.Bangun Karakter, Bukan Sekadar Pintar  

Pendidikan hari ini tak cukup cetak orang cerdas. Harus lahirkan manusia berintegritas. SKP hadir jadi mitra sekolah dan kampus menanamkan gotong royong, toleransi, dan keadilan lewat aksi nyata, bukan hafalan.

2.Jaga Persatuan di Tengah Polarisasi  

Medsos penuh hoaks dan ujaran kebencian. Sila ketiga Pancasila jadi obatnya. SKP dorong dialog dan kolaborasi antar kelompok agar keberagaman tetap jadi kekuatan, bukan bom waktu.

3 Literasi Digital Berbasis Pancasila

Bijak di dunia digital bukan cuma soal bisa klik. Tapi mampu saring informasi, paham etika, dan pakai medsos untuk hal positif. SKP mau ciptakan ruang digital yang sehat dan produktif.

4.Dorong Keadilan Sosial*  

Globalisasi bisa perlebar jurang kaya-miskin. Lewat program pemberdayaan, SKP pastikan semangat gotong royong dan keberpihakan pada yang lemah tetap hidup. Sila kelima harus nyata, bukan jargon.

5.Selamatkan Budaya Lokal  

Bahasa daerah, kesenian, adat istiadat makin terpinggirkan. SKP jadi pelopor pelestarian lewat festival dan edukasi. Modern boleh, tapi akar jangan dicabut.

AI, transformasi digital, krisis iklim, geopolitik dunia – semua menuntut SDM unggul dan berkarakter. Bangsa besar bukan cuma maju teknologi, tapi kuat mempertahankan fondasi nilainya.

SKP hadir sebagai jembatan: menghubungkan nilai luhur bangsa dengan tantangan zaman. Pancasila harus hidup di praktik sehari-hari, bukan cuma slogan upacara.

Menjaga akar kebangsaan bukan urusan pemerintah saja. Ini kerja bareng. Setya Kita Pancasila mengingatkan: maju boleh, tapi karakter bangsa jangan tumbang.

Di dunia tanpa batas ini, Pancasila tetap kompas moral Indonesia. Dengan semangat Setya Kita Pancasila, akar bangsa ini akan tetap kuat meski dihantam gelombang globalisasi tanpa henti.

(Elang)