Skandal di Balik Blok Masela: Rakyat Tanimbar Guncang Jakarta, Mario Banta Tuding Ada Permainan Politik dan Isu Siluman Rp200 Ribu
Jakarta, TribunNusantara.web.id – Aksi protes Aliansi Perjuangan Keadilan Rakyat Tanimbar (APKRT) di depan kantor Inpex Masela Ltd di Jakarta, Senin (3/11/2025), mendadak memanas. Di tengah suara orasi menuntut keadilan atas proyek raksasa Blok Masela, beredar isu bahwa setiap peserta aksi dibayar Rp200 ribu.
Namun, tudingan itu langsung dibantah telak oleh Mario Banta, salah satu tokoh aksi. Ia menyebut kabar tersebut sebagai fitnah busuk yang diciptakan untuk menggembosi perjuangan rakyat Tanimbar dan menabur racun di antara barisan massa.
“Tidak ada uang Rp200 ribu, tidak ada bayaran. Kami turun ke jalan karena hati kami terpanggil oleh ketidakadilan yang mencengkeram tanah Tanimbar. Ini murni fitnah, dan kami tahu siapa yang bermain,” tegas Mario, matanya menatap tajam ke arah wartawan.
Menurut Mario, isu itu sengaja digoreng oleh Doljer Unawekla, yang disebutnya memiliki kepentingan politik dan ambisi kelompok tertentu.
“Doljer bukan orang baru di lingkaran kepentingan proyek. Kami tahu jejaknya. Dia ingin menebar provokasi agar rakyat Tanimbar saling curiga dan gerakan ini kehilangan arah,” ujarnya.
Bau Anyir Politik di Balik Skandal Inpex Masela
Bagi Mario dan rekan-rekannya di Aliansi Perjuangan Keadilan Rakyat Tanimbar, proyek Blok Masela bukan sekadar proyek energi raksasa. Di balik janji kesejahteraan dan investasi triliunan rupiah itu, mereka mencium bau anyir kongkalikong antara Inpex dan sejumlah oknum pejabat daerah.
“Kami melihat ada permainan licik dalam pengaturan kontraktor dan sub-kontraktor. Rakyat Tanimbar hanya dijadikan penonton di tanah sendiri,” ujar Mario.
Isu soal dana transportasi itu, kata dia, hanyalah pengalih perhatian dari skandal besar yang coba ditutupi.
“Ketika kami mulai bersuara soal ganti rugi lahan, soal hak masyarakat adat, tiba-tiba muncul isu murahan ini. Sangat jelas: ada yang panik, ada yang takut gerakan ini membuka borok di tubuh proyek Masela,” ucapnya.
Delapan Tuntutan yang Mengguncang Inpex
Dalam aksinya, massa membawa delapan tuntutan utama yang menyorot langsung cara kerja dan transparansi Inpex Masela Ltd, antara lain:
1. Usut tuntas indikasi skandal Inpex Masela.
2. Hormati dan hargai masyarakat adat Tanimbar.
3. Bayar ganti rugi lahan secara adil dan transparan.
4. Serap tenaga kerja lokal Maluku dan Tanimbar.
5. Jalankan CSR dengan profesional dan berpihak pada rakyat.
6. Hentikan praktik “cawe-cawe” dan kongkalikong antara Inpex dan oknum Pemda KKT.
7. Copot Puri Minari, Senior Manager Communication & Relation Inpex Masela, yang dituding menciptakan disharmoni di masyarakat.
8. Libatkan pengusaha dan SDM lokal Tanimbar di posisi strategis proyek Masela.
Simon Batmomolin: Gerakan Ini Tak Bisa Dibeli
Simon Batmomolin, koordinator lapangan aksi, menegaskan bahwa tidak ada sepeser pun uang mengalir ke peserta. Ia menyebut, fitnah soal uang Rp200 ribu itu bentuk kepanikan pihak yang selama ini nyaman di balik kekuasaan dan proyek besar.
“Kami tidak butuh uang sogokan. Kami butuh keadilan. Gerakan ini tak bisa dibeli, karena kami membawa harga diri rakyat Tanimbar,” ujarnya lantang di hadapan massa.
Aksi berlangsung panas namun tertib. Massa sempat membentangkan spanduk bertuliskan:
“Masela Bukan Milik Korporasi, Tapi Milik Leluhur Kami!”
Sementara sebagian peserta aksi dikabarkan sempat mencari keberadaan Doljer Unawekla, yang disebut-sebut sebagai otak di balik isu hoaks itu. Ketegangan nyaris pecah, tapi berhasil diredam oleh Simon dan para koordinator lapangan.
Tanimbar Tidak Bisa Dibungkam
Mario menegaskan, Aliansi Perjuangan Keadilan Rakyat Tanimbar akan terus bersuara, meski berbagai upaya pembungkaman dan fitnah terus diarahkan kepada mereka.
“Jangan pernah remehkan rakyat kecil yang tersakiti. Hari ini kami berdiri di depan Inpex, besok kami bisa berdiri di depan kementerian, atau bahkan di depan istana,” ujarnya penuh amarah tertahan.
Ia juga mengingatkan seluruh warga Tanimbar, baik di kampung halaman maupun di perantauan, agar tidak mudah terhasut isu murahan yang diciptakan untuk mengacaukan barisan rakyat.
“Kami tidak melawan untuk kepentingan pribadi. Kami melawan karena kami mencintai tanah Tanimbar, tanah yang kini terancam jadi korban keserakahan,” pungkas Mario.
Aksi berakhir menjelang sore, namun pesan yang tertinggal tak mudah dilupakan.
Bukan hanya tentang delapan tuntutan rakyat Tanimbar, tapi tentang kesadaran baru: bahwa di tengah proyek raksasa bernilai miliaran dolar, suara rakyat kecil masih bisa mengguncang kekuasaan.
Dan bagi Inpex serta mereka yang bersembunyi di balik kepentingan Blok Masela, gelombang kecil dari Tanimbar ini bisa saja menjadi badai besar berikutnya.








































Komentar via Facebook