SPAM Timika 14 Tahun Jalan di Tempat, Anggaran Bengkak Rp1,1 Triliun: Rakyat Haus, Proyek Diduga Jadi Bancakan?
SPAM Timika 14 Tahun Jalan di Tempat, Anggaran Bengkak Rp1,1 Triliun: Rakyat Haus, Proyek Diduga Jadi Bancakan?
MIMIKA, Tribunnusantara-web.id Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Timika kini tak lagi dipandang sebagai proyek pembangunan biasa. Di mata publik, proyek yang sudah terseret selama kurang lebih 14 tahun itu mulai terlihat seperti monumen kegagalan sekaligus simbol brutalnya pemborosan anggaran di atas penderitaan rakyat.10/05/2026
Bagaimana tidak, dana proyek yang awalnya sekitar Rp374 miliar terus membengkak liar menjadi Rp510 miliar pada 2022, lalu melonjak lagi hingga menembus angka fantastis sekitar Rp1,1 triliun. Namun sampai hari ini, masyarakat Mimika masih tetap kesulitan mendapatkan air bersih secara layak.
Triliunan rupiah seolah lenyap ditelan proyek tanpa ujung, sementara warga terus hidup dalam krisis kebutuhan dasar. Kondisi ini memantik pertanyaan keras di tengah publik: uang sebesar itu sebenarnya dipakai untuk membangun jaringan air bersih atau justru mengalir entah ke mana?
Proyek SPAM Timika merupakan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Mimika dan PT Freeport Indonesia. Dalam skema kerja sama itu, Freeport bertanggung jawab membangun fasilitas pengolahan air, sedangkan pemerintah daerah mengurus jaringan distribusi pipa ke masyarakat.
Namun fakta di lapangan justru memperlihatkan proyek yang seperti kehilangan arah. Belasan tahun berjalan, anggaran terus membengkak, tetapi hasil nyata nyaris tak dirasakan rakyat. Situasi ini membuat publik mulai mencium adanya dugaan persoalan serius dalam tata kelola proyek.
“Kalau proyek terus molor, anggaran naik gila-gilaan, tetapi rakyat tetap tidak menikmati air bersih, maka wajar publik curiga ada yang tidak beres,” tegas salah satu perwakilan masyarakat Mimika.
Kemarahan publik kini mengarah pada tuntutan audit total dan pengusutan hukum secara menyeluruh. Aparat penegak hukum didesak segera turun tangan membedah aliran anggaran proyek SPAM Timika, termasuk membuka kemungkinan adanya dugaan penyimpangan, pemborosan sistematis, hingga praktik yang merugikan keuangan negara.
Tak hanya aparat hukum, Tim Pansus Air DPRD Mimika juga mendapat tekanan keras dari masyarakat agar tidak bermain aman. Publik menuntut pansus bekerja serius, transparan, dan berani membongkar siapa pihak yang harus bertanggung jawab atas proyek triliunan rupiah yang hingga kini belum memberi jawaban bagi rakyat.
Bagi warga Mimika, masalah ini bukan lagi soal lambannya pembangunan. Ini tentang hak dasar masyarakat yang diduga dikorbankan di tengah proyek bernilai fantastis.
“Rakyat haus bertahun-tahun, tetapi anggaran justru terus gemuk. Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, publik pantas menduga proyek ini hanya menjadi ladang empuk bagi segelintir pihak,” kecam warga.
(*****)








































Komentar via Facebook