SPWP Nabire Peringati Tragedi Biak 1998 Dengan Diskusi Dan Lapak Baca

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 07 Juli 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

SPWP Nabire Peringati Tragedi Biak 1998 Dengan Diskusi Dan  Lapak Baca

Tribun-nusantara.web.id.  Nabire, Papua Tengah – Senin, 6 Juli 2026, Solidaritas Pelajar West Papua (SPWP) Wilayah Nabire memperingati Tragedi Biak Berdarah Juli 1998 melalui diskusi publik dan lapak baca gratis di Pasar Karang Tumaritis, depan Kios Panjang, Senin 6 Juli 2026 pukul 16.30 WIT.

Koordinator Lapangan SPWP Nabire, Rohman Kobepa, mengatakan kegiatan ini bertujuan menjadi ruang refleksi sejarah, pendidikan politik, dan literasi bagi pelajar dan masyarakat.

Mengusung tema "Papua Darurat HAM", diskusi menyoroti berbagai persoalan HAM di Papua. Dalam pemaparan disebutkan, setelah aksi pengibaran Bintang Kejora di Biak Juli 1998, terjadi operasi aparat yang menyebabkan penangkapan, kekerasan, dan penghilangan orang. Laporan juga mencatat ditemukannya jenazah di perairan Biak akhir Juli 1998. Hingga kini peristiwa itu masih menuntut penyelesaian.

Selain diskusi, SPWP membuka lapak baca gratis. Sejumlah pelajar di Nabire tampak antusias membaca dan berdiskusi.

"Melalui buku dan dialog, kami ingin menumbuhkan budaya literasi, berpikir kritis, dan memahami persoalan sosial, politik, ekonomi, hingga lingkungan di Papua," kata Rohman.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap. SPWP Nabire menyampaikan 6 tuntutan:

1.  Mengusut dan memproses hukum pelaku Tragedi Biak 1998.

2.  Menarik personel militer organik dan nonorganik dari seluruh Papua.

3.  Mencabut izin perusahaan yang beroperasi di tanah Papua.

4.  Menarik militer dari Intan Jaya, Dogiyai, Paniai, Timika, Puncak, dan Deiyai.

5.  Mengusut penembakan Yustinus Yalak (18), pelajar SMA Negeri 1 Dekai, Yahukimo.

6.  Menginvestigasi kematian ibu hamil

Marliana Duwitau dan warga sipil di Intan Jaya, 30 Juni – 2 Juli 2026.

SPWP menyebut 6 Juli sebagai hari bersejarah dan luka bersama bagi rakyat Papua.

Penulis: Vinsen, Aktivis Lingkungan Papua, Koordinator SPWP Nabire, Rohman Kobepa, menyebut Tragedi Biak masih menjadi luka yang belum diselesaikan negara.

Dalam pernyataan sikap, SPWP menuntut:

1.  Usut tuntas pelaku Tragedi Biak 1998.

2.  Tarik militer dari seluruh Papua, khususnya Intan Jaya, Dogiyai, Paniai, Timika, Puncak, Deiyai.

3.  Cabut izin perusahaan di tanah Papua.

4.  Usut penembakan pelajar Yustinus Yalak di Yahukimo.

5.  Investigasi kematian ibu hamil Marliana Duwitau di Intan Jaya.

"Melalui diskusi dan literasi, kami ajak masyarakat berpikir kritis dan menjunjung kemanusiaan," tutup Rohman.

Perwarta: Jeri P. Degei