Stunting Malra Turun, Tapi Pekerjaan Rumah Belum Selesai: Thaher Dorong Pangan Lokal Jadi Senjata dari Hulu

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 22 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Stunting Malra Turun, Tapi Pekerjaan Rumah Belum Selesai: Thaher Dorong Pangan Lokal Jadi Senjata dari Hulu

Stunting Malra Turun, Tapi Pekerjaan Rumah Belum Selesai: Thaher Dorong Pangan Lokal Jadi Senjata dari Hulu

Langgur Tribunnusantara-web.id — Penurunan angka stunting di Kabupaten Maluku Tenggara tidak boleh membuat pemerintah daerah kehilangan kewaspadaan. Justru ketika capaian mulai membaik, pekerjaan yang lebih berat adalah memastikan intervensi gizi benar-benar menyentuh keluarga dan tidak berhenti sebagai program di atas kertas.

Di tengah tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara memperkuat strategi pencegahan stunting melalui pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal. Sasaran utamanya adalah kelompok yang berada dalam kondisi rentan, terutama ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) serta balita dengan berat badan kurang atau underweight.

Program ini menjadi penting karena persoalan stunting tidak semata-mata berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Masalah gizi juga berkaitan erat dengan pola konsumsi keluarga, pengetahuan orang tua, kemampuan mengolah pangan, kondisi lingkungan serta konsistensi pemantauan tumbuh kembang anak.

Karena itu, pembekalan PMT berbasis pangan lokal diarahkan bukan sekadar untuk membagikan makanan, tetapi membangun kemampuan masyarakat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di daerah menjadi sumber gizi yang sehat, beragam, aman dan berkelanjutan.

Berdasarkan surat Sekretariat Daerah Kabupaten Maluku Tenggara tertanggal 20 Agustus 2026, kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Kampanye dan Pergerakan Masyarakat Hidup Sehat atau Gerakan Cegah Stunting.

Pangan Lokal Jangan Berhenti Jadi Slogan

Di sinilah tantangan sebenarnya.

Maluku Tenggara memiliki potensi pangan lokal yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat. Namun, potensi tersebut hanya akan berarti apabila benar-benar masuk ke pola konsumsi keluarga dan mampu mendukung pemenuhan gizi kelompok rentan.

Pembekalan kader karena itu harus menghasilkan keterampilan praktis. Kader tidak cukup mengetahui teori tentang stunting, tetapi harus mampu membantu keluarga memahami bagaimana pangan yang tersedia di sekitar mereka dapat diolah menjadi makanan bergizi bagi ibu hamil dan anak.

Dengan pendekatan tersebut, PMT berbasis pangan lokal diharapkan tidak menjadi program yang bergantung pada distribusi makanan dari luar daerah.

Sebaliknya, program ini dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ketahanan pangan sekaligus ketahanan gizi keluarga.

Kader Jangan Hanya Menunggu di Posyandu

Pemerintah daerah juga menempatkan kader sebagai salah satu ujung tombak dalam memastikan intervensi benar-benar sampai kepada sasaran.

Peran kader tidak berhenti pada kegiatan Posyandu. Mereka diharapkan ikut memantau kondisi ibu hamil, balita, pola konsumsi keluarga dan perkembangan anak.

Jika ditemukan kelompok yang berisiko, informasi tersebut harus segera diteruskan kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan.

Artinya, kader harus menjadi penghubung yang aktif antara keluarga dengan sistem pelayanan kesehatan.

Sebab, satu keluarga yang tidak terpantau dapat menjadi satu celah dalam upaya pencegahan stunting.

Enam Puskesmas Disiapkan, Hasil Lapangan yang Akan Bicara

Program pembekalan tersebut melibatkan sejumlah fasilitas kesehatan, yakni Puskesmas Elat, Puskesmas Mataholat, Puskesmas Ohoiel, Puskesmas Larat, Puskesmas Mun dan Puskesmas Holat.

Keterlibatan enam wilayah pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa persoalan gizi membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan tidak bisa ditangani secara parsial.

Namun, banyaknya fasilitas yang terlibat bukanlah ukuran akhir keberhasilan.

Ukuran sebenarnya berada di lapangan: apakah ibu hamil dengan KEK benar-benar mendapatkan intervensi, apakah balita underweight mendapatkan pendampingan, apakah keluarga memahami kebutuhan gizi anak, dan apakah kondisi mereka membaik setelah intervensi diberikan.

Thaher Dorong Intervensi Tidak Berhenti di Seremoni

Bupati Maluku Tenggara, M. Thaher Hanubun, dijadwalkan memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan pembekalan tersebut pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Kegiatan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 10.00 WIT hingga selesai di RS Pratama Lies Hanubun Maluku Tenggara.

Kehadiran pimpinan daerah sekaligus menjadi penegasan bahwa percepatan penurunan stunting membutuhkan perhatian lintas sektor.

Tetapi pesan terpenting dari agenda ini justru berada setelah kegiatan berakhir.

Pembekalan tidak boleh berhenti menjadi foto kegiatan, daftar hadir dan laporan administrasi. Pengetahuan yang diberikan kepada kader harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tingkat keluarga.

Dari Hulu, Bukan Menunggu Anak Sudah Bermasalah

Pencegahan stunting pada akhirnya harus dilakukan sebelum masalah menjadi lebih berat.

Ibu hamil dengan KEK perlu mendapatkan perhatian sejak awal. Balita dengan berat badan kurang harus segera diidentifikasi dan didampingi. Keluarga harus memahami pentingnya makanan bergizi. Pertumbuhan anak harus dipantau secara berkala.

Karena itu, pendekatan berbasis pangan lokal memiliki peluang strategis.

Jika dikelola dengan baik, program ini bukan hanya berbicara tentang makanan tambahan. Ia dapat menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan makan sehat, memperkuat peran keluarga, meningkatkan kapasitas kader dan mengoptimalkan sumber daya pangan yang dimiliki masyarakat Maluku Tenggara.

Kini Saatnya Membuktikan

Pemerintah daerah telah menyiapkan konsep, sasaran dan jaringan pelayanan. Kader disiapkan, fasilitas kesehatan dilibatkan, dan pangan lokal mulai didorong menjadi bagian dari intervensi.

Namun publik tentu membutuhkan lebih dari sekadar agenda dan pembekalan.

Yang ditunggu adalah hasilnya.

Apakah jumlah ibu hamil dengan KEK dapat ditekan? Apakah balita underweight benar-benar mendapatkan penanganan? Apakah keluarga semakin aktif memanfaatkan Posyandu? Dan yang paling penting, apakah angka stunting terus bergerak turun secara berkelanjutan?

Di titik itulah program PMT berbasis pangan lokal akan diuji.

Sebab perang melawan stunting tidak dimenangkan di ruang seremonial, melainkan di dapur keluarga, di Posyandu, di Puskesmas dan di setiap rumah tempat anak-anak Maluku Tenggara tumbuh.

Editor: Bruce Elang