Tenun Troso Jepara dan UMKM Bunga Desa Formades Curi Panggung di TMII, Bukti Produk Lokal Mampu Bersaing di Pasar Nasional
Tenun Troso Jepara dan UMKM Bunga Desa Formades Curi Panggung di TMII, Bukti Produk Lokal Mampu Bersaing di Pasar Nasional
Jakarta Tribunnusantara-web.id – Kabupaten Jepara berhasil mencuri perhatian publik dalam Festival Olahan Pangan Jawa Tengah 2026 yang digelar di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada 10–12 Juli 2026. Melalui Divisi UMKM DPC Formades (Bunga Desa Formades), Jepara tampil bukan sekadar sebagai peserta pameran, tetapi sebagai representasi daerah yang mampu membuktikan bahwa produk lokal berbasis budaya dan pangan alternatif memiliki daya saing tinggi di pasar nasional.
Di tengah gencarnya kampanye diversifikasi pangan nasional, Jepara menghadirkan kombinasi unik antara warisan budaya dan inovasi ekonomi kreatif. Tenun Troso, yang telah lama menjadi ikon kerajinan Jepara, menjadi magnet utama pengunjung. Bersanding dengan itu, berbagai produk unggulan UMKM seperti Kopi Sumanding Jepara, Larut, keripik singkong, tepung Mocaf (Modified Cassava Flour), hingga beragam produk handicraft memperlihatkan bahwa pelaku usaha lokal mampu mengolah potensi daerah menjadi komoditas bernilai tinggi.11/07/2029
Sejak hari pertama pembukaan, stand Jepara dipadati pengunjung yang ingin melihat langsung kualitas produk yang dipamerkan. Antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa produk UMKM daerah tidak lagi dipandang sebagai pelengkap pameran, melainkan telah berkembang menjadi sektor ekonomi yang mampu menarik minat pasar.
Perwakilan peserta, Kartini, menegaskan bahwa kehadiran Bunga Desa Formades membawa misi yang lebih besar daripada sekadar mempromosikan produk.
"Kami ingin membuktikan bahwa produk Jepara mampu bersaing dengan produk dari daerah lain. Potensi lokal harus diberi ruang untuk berkembang sehingga mampu menjadi kekuatan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional," ujarnya.»
Menurut Kartini, para pelaku UMKM terus mengembangkan berbagai produk berbahan baku singkong, jagung, ubi jalar, dan ubi kayu sebagai alternatif pangan yang lebih beragam. Langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mendorong diversifikasi konsumsi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap beras dan tepung terigu.
Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah tepung Mocaf, tepung hasil fermentasi singkong yang kini semakin diminati sebagai bahan baku makanan bebas gluten. Berbagai produk olahan berbasis Mocaf telah berhasil dikembangkan menjadi aneka makanan modern dengan nilai jual yang kompetitif. Sementara itu, produk Larut juga diperkenalkan sebagai salah satu olahan khas Jepara yang mulai dikenal masyarakat karena manfaatnya bagi kesehatan lambung.
Kartini menilai festival ini menjadi momentum penting bagi UMKM untuk menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya lahir dari industri besar. Menurutnya, pelaku usaha desa juga mampu menghadirkan produk berkualitas apabila mendapatkan ruang promosi, pembinaan, dan akses pasar yang memadai.
"Sudah saatnya produk lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. UMKM harus diberi kesempatan yang lebih luas untuk berkembang, karena dari sektor inilah lahir lapangan kerja, peningkatan ekonomi masyarakat, sekaligus kemandirian pangan bangsa," tegasnya.
Festival Olahan Pangan Jawa Tengah 2026 menjadi etalase keberhasilan berbagai daerah dalam mengembangkan pangan lokal berbasis potensi masing-masing. Bagi Kabupaten Jepara, keikutsertaan dalam ajang ini bukan sekadar memamerkan produk, tetapi mengirimkan pesan kuat bahwa kreativitas, budaya, dan inovasi mampu berjalan beriringan sebagai fondasi pembangunan ekonomi daerah.
Melalui Tenun Troso dan beragam produk unggulan UMKM Bunga Desa Formades, Jepara membuktikan bahwa daerah tidak hanya memiliki warisan budaya yang membanggakan, tetapi juga kekuatan ekonomi kreatif yang siap bersaing di tingkat nasional bahkan menembus pasar global.
Penulis: Kartini
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook