Tifa Menggugat Ingatan Sejarah, Mapurujaya Tandai HUT ke-50
Tifa Menggugat Ingatan Sejarah, Mapurujaya Tandai HUT ke-50
MIMIKA, PAPUA TENGAH Tribunnusantara-web.id — Bunyi tifa menggema dari malam hingga pagi di Mapurujaya. Bukan sekadar suara tradisi, dentumannya menjadi penanda perjalanan sejarah, penghormatan kepada leluhur, sekaligus pengingat agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya.18/8/26
Momentum tersebut mengiringi peringatan HUT ke-50 Mapurujaya, yang diisi dengan prosesi adat menuju tugu oleh para tua-tua adat. Prosesi itu menjadi bagian penting sebelum seluruh rangkaian perayaan dilaksanakan.
Ketua Panitia HUT Mapurujaya ke-50, Hendrikus Mauri, mengatakan prosesi adat tersebut bukan kegiatan seremonial semata. Di dalamnya terdapat nilai penghormatan dan permintaan izin secara adat kepada para leluhur.
“Ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ini tradisi turun-temurun yang harus tetap dilakukan. Setelah para tua-tua adat meminta izin, tifa dibunyikan dari malam hingga pagi sebagai bentuk kebersamaan,” ujar Hendrikus.
TIFA BUKAN SEKADAR BUNYI
Menurut Hendrikus, bunyi tifa memiliki nilai filosofis dan sejarah yang tidak dapat dimaknai secara sembarangan. Karena itu, penjelasan mengenai simbol dan makna adat lebih tepat disampaikan oleh para tetua adat maupun kepala suku yang memahami sejarahnya.
“Generasi muda juga harus belajar. Ada bagian-bagian adat yang memang tidak boleh dijelaskan sembarangan karena memiliki makna dan sejarah tersendiri,” katanya.
Tradisi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat menjaga hubungan antara generasi terdahulu dan generasi sekarang.
50 TAHUN, SEJARAH JANGAN TERPUTUS
Hendrikus menilai HUT ke-50 Mapurujaya seharusnya tidak berhenti sebagai perayaan tahunan. Momentum setengah abad ini harus menjadi kesempatan untuk membuka kembali sejarah Mapurujaya dan perjuangan para pendahulu.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian dan dukungan anggaran yang lebih besar terhadap kegiatan sejarah dan budaya masyarakat.
“Kalau kita benar-benar ingin menghayati sejarah Mapurujaya sampai pada perjalanan lahirnya Kabupaten Mimika, kegiatan seperti ini harus dibuat lebih besar,” tegasnya.
Ia bahkan mendorong agar pemukulan tifa dapat dikembangkan menjadi agenda budaya yang berlangsung beberapa hari. Dengan demikian, masyarakat dari berbagai kampung dan distrik dapat berkumpul, mempererat persaudaraan, sekaligus mengenalkan budaya kepada generasi muda.
MAPURUJAYA BUKAN SEKADAR NAMA
Hendrikus juga mengajak masyarakat dari Mimika Timur, wilayah pesisir, hingga distrik lainnya untuk melihat HUT ke-50 sebagai bagian dari sejarah bersama.
Menurutnya, Mapurujaya memiliki perjalanan yang tidak terpisahkan dari perkembangan masyarakat dan perjalanan sejarah Kabupaten Mimika.
“Ini merupakan sejarah. Bukan hanya masyarakat Mimika Timur yang perlu melihat dan merayakannya. Kami berharap masyarakat dari distrik lain juga dapat datang bersama-sama,” ujarnya.
PESAN UNTUK GENERASI MUDA
Sebagai bagian dari anak-anak perintis, Hendrikus menyampaikan apresiasi terhadap perjuangan para orang tua yang telah membangun kehidupan di Mapurujaya.
Ia menegaskan bahwa tugas generasi sekarang bukan hanya menikmati hasil perjuangan pendahulu, tetapi juga menjaga adat, budaya, sejarah, dan nilai kebersamaan agar tidak terputus.
“Kami sebagai anak-anak perintis sangat bersyukur atas perjuangan orang tua kami. Sekarang tugas kami adalah meneruskannya kepada anak-anak dan generasi berikutnya,” ungkapnya.
Hendrikus mengajak masyarakat untuk menjadikan HUT ke-50 sebagai momentum memperkuat persatuan sekaligus memperkenalkan sejarah Mapurujaya kepada generasi penerus.
KETIKA TIFA BERBUNYI, SEJARAH BERBICARA
Setengah abad bukan sekadar angka. Di balik HUT ke-50 Mapurujaya terdapat perjalanan manusia, adat, perjuangan, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika tifa berbunyi hingga pagi, masyarakat tidak hanya sedang merayakan ulang tahun sebuah wilayah. Mereka sedang menjaga sebuah pesan: sebuah daerah boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi tidak boleh kehilangan sejarah dan jati dirinya.
Mapurujaya merayakan 50 tahun. Namun yang jauh lebih penting adalah memastikan warisan para pendahulu tetap hidup dan tidak terputus di tangan generasi berikutnya.
Penulis: M.G. Fakaubun
Editor: HR








































Komentar via Facebook