TIGA HARI DITEMPA, PEMUDA MIMIKA DIDORONG JADI PEMIMPIN MASA DEPAN YANG BERINTEGRITAS

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 07 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

TIGA HARI DITEMPA, PEMUDA MIMIKA DIDORONG JADI PEMIMPIN MASA DEPAN YANG BERINTEGRITAS

TIGA HARI DITEMPA, PEMUDA MIMIKA DIDORONG JADI PEMIMPIN MASA DEPAN YANG BERINTEGRITAS

TIMIKA, PAPUA TENGAH — TribunNusantara-web.id — Pemerintah Kabupaten Mimika menegaskan bahwa pembangunan kepemudaan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Tiga hari pelatihan kepemimpinan harus mampu melahirkan pemuda yang memiliki karakter, integritas, kapasitas, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kesiapan menjadi pemimpin di tengah masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan dalam penutupan Kegiatan Koordinasi, Sinkronisasi, dan Penyelenggaraan Pengembangan Kepemimpinan Pemuda Tingkat Kabupaten/Kota Tahun 2026, yang berlangsung selama tiga hari, 5–7 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut secara resmi ditutup pada Rabu, 7 Oktober 2026, oleh Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Petrus Pali Ambaa, yang mewakili Bupati Mimika.

Dalam sambutannya, Petrus memberikan apresiasi kepada Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mimika, para narasumber, fasilitator, serta seluruh peserta yang telah mengikuti kegiatan hingga selesai.

Namun, pesan yang disampaikannya tidak berhenti pada apresiasi.

Menurut Petrus, ukuran keberhasilan pembangunan kepemudaan bukan semata-mata berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan pemerintah, tetapi seberapa jauh kegiatan tersebut mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia muda.

   “Pemuda merupakan bagian penting dalam pembangunan daerah. Mereka adalah generasi yang akan melanjutkan estafet pembangunan dan kepemimpinan di masa yang akan datang,” ujar Petrus.

PEMUDA JANGAN HANYA DICETAK JADI PESERTA

Pemerintah daerah, kata Petrus, memiliki tanggung jawab membuka ruang bagi pemuda untuk belajar, berkembang, berorganisasi, membangun jejaring dan terlibat langsung dalam pembangunan.

Karena itu, pelatihan kepemimpinan tidak boleh berhenti pada sertifikat maupun dokumentasi kegiatan.

Pengetahuan yang diperoleh peserta harus dibawa kembali ke organisasi dan lingkungan masing-masing, kemudian diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Pemuda dituntut mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat, bukan justru menjadi kelompok yang hanya menunggu ruang dan kesempatan.

Dalam konteks Kabupaten Mimika yang memiliki dinamika sosial, ekonomi dan pembangunan yang kompleks, kualitas kepemimpinan generasi muda menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah masa depan daerah.

PEMIMPIN BUKAN SEKADAR BERANI TAMPIL

Petrus mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat menuntut pemuda memiliki kemampuan beradaptasi.

Namun, kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup.

Seorang pemimpin, menurutnya, harus memiliki kemampuan mendengar, memahami persoalan, mengayomi masyarakat, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang dibuat.

  “Kepemimpinan bukan hanya mengenai jabatan. Kepemimpinan adalah tentang keteladanan dan kemampuan memberikan pengaruh positif kepada orang lain,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penting karena kepemimpinan tidak semestinya dipahami sebatas posisi atau kekuasaan.

Kepemimpinan harus dibangun dari integritas, keteladanan, kompetensi dan keberanian memikul tanggung jawab.

Karena itu, Petrus mendorong pemuda Mimika untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, berani mengambil tanggung jawab, sekaligus tetap menjaga persatuan, toleransi, nilai budaya dan kebersamaan.

DASAR HUKUM: PEMBANGUNAN KEPEMUDAAN BUKAN SEKADAR PROGRAM PEMERINTAH

Secara hukum, pengembangan kepemudaan memang merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah.

UU Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan menempatkan penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan pemuda sebagai bagian dari pembangunan nasional. Undang-undang tersebut juga mengatur tugas, wewenang dan tanggung jawab pemerintah serta pemerintah daerah dalam pelayanan kepemudaan.

Sementara itu, UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah memberikan kewenangan kepada pemerintah kabupaten/kota dalam suburusan kepemudaan, antara lain penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan pemuda serta pemberdayaan dan pengembangan organisasi kepemudaan tingkat kabupaten/kota.

Artinya, program pengembangan kepemimpinan pemuda di Mimika memiliki pijakan dalam pembagian urusan pemerintahan dan bukan semata-mata kegiatan tambahan.

Lebih lanjut, Perpres Nomor 43 Tahun 2022 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kepemudaan serta sinkronisasi dan harmonisasi program kepemudaan. Pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan dan kepeloporan pemuda termasuk bagian dari program sinergis tersebut.

Bahkan, sejak 17 April 2026, telah berlaku Permenpora Nomor 6 Tahun 2026 tentang Pelayanan Kepemudaan, yang mencakup antara lain kepemimpinan, kepeloporan, kewirausahaan, pemberdayaan dan pengembangan organisasi kepemudaan serta rencana aksi daerah pelayanan kepemudaan.

Dengan demikian, tantangan pemerintah daerah bukan hanya menyelenggarakan pelatihan, tetapi memastikan program tersebut memiliki kelanjutan, indikator keberhasilan dan dampak nyata terhadap kualitas pemuda.

PEMUDA HARUS MENJADI AGEN PERUBAHAN

Petrus menyampaikan bahwa pembangunan kepemudaan tidak mungkin ditangani pemerintah seorang diri.

Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, dunia usaha, tokoh masyarakat, tokoh agama dan berbagai elemen masyarakat.

Komunikasi antara pemerintah daerah dan organisasi kepemudaan juga perlu diperkuat agar kebijakan dan program yang dilahirkan benar-benar menjawab kebutuhan generasi muda.

Para peserta diharapkan tidak kembali ke organisasi masing-masing hanya dengan membawa pengalaman mengikuti kegiatan.

Mereka harus mampu membawa perubahan.

  “Apabila generasi muda diberikan kesempatan, kepercayaan dan ruang untuk berkembang, saya percaya mereka akan mampu memberikan kontribusi besar bagi kemajuan daerah,” katanya.

Pemuda, lanjutnya, harus mampu menjadi agen perubahan, menghadirkan solusi, menjaga persatuan dan menjadi kekuatan positif bagi Kabupaten Mimika.

KEPEMIMPINAN HARUS TERHUBUNG DENGAN PEMBANGUNAN

Petrus juga menekankan pentingnya menghubungkan kepemimpinan pemuda dengan persoalan pembangunan masyarakat.

Pemuda harus memiliki wawasan terhadap berbagai sektor strategis, termasuk ekonomi masyarakat, pertanian, perikanan dan sektor produktif lainnya.

Dengan demikian, organisasi kepemudaan tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga menjadi tempat lahirnya gagasan dan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pelatihan kepemimpinan, menurut Petrus, diharapkan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan dengan materi yang semakin relevan terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan daerah.

Peserta yang berasal dari berbagai organisasi kepemudaan juga memiliki kesempatan membangun komunikasi lintas organisasi.

Hal tersebut dinilai penting untuk mengurangi sekat antarkelompok sekaligus memperkuat jaringan pemuda Mimika.

TIGA HARI SELESAI, TANGGUNG JAWAB BARU DIMULAI

Penutupan kegiatan pada Rabu, 7 Oktober 2026, secara administratif menandai berakhirnya rangkaian pelatihan.

Namun, secara substantif, justru menjadi awal dari tanggung jawab para peserta.

Tiga hari ditempa tidak boleh berakhir sebagai tiga hari kegiatan biasa.

Nilai kepemimpinan yang diperoleh harus terlihat dalam cara pemuda mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, bekerja bersama, menghargai perbedaan dan berani mempertanggungjawabkan tindakan.

Pemerintah Kabupaten Mimika berharap kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses panjang membangun generasi muda yang berkarakter, mandiri, kreatif, inovatif dan berintegritas.

Sebab, masa depan Mimika tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan besarnya anggaran daerah, tetapi juga oleh kualitas manusia yang kelak mengelola pembangunan tersebut.

Dan di titik itulah pembangunan kepemudaan harus diuji: bukan dari meriahnya acara, tetapi dari lahirnya pemimpin muda yang benar-benar mampu bekerja, berintegritas dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

Penulis: M.R

Editor: B.E