Timika Darurat Narkoba! DPRK Mimika Semprot Polisi: Jangan Cuma Musnahkan Sabu Miliaran, Bandar Besarnya Mana?
Timika Darurat Narkoba! DPRK Mimika Semprot Polisi: Jangan Cuma Musnahkan Sabu Miliaran, Bandar Besarnya Mana?
Mimika Tribunnusantara-web.id – Ledakan kasus narkoba di Kabupaten Mimika kembali memantik sorotan keras. Anggota DPRK Mimika dari Fraksi Perindo, Hj. Rapeani Racham, melontarkan kritik tajam kepada aparat penegak hukum yang dinilai lebih sering mempertontonkan pemusnahan barang bukti ketimbang membongkar aktor utama di balik maraknya peredaran narkoba di Bumi Amungsa.04/06/2026
Pernyataan itu disampaikan menyusul pemusnahan sabu senilai Rp2,7 miliar yang dilakukan aparat. Bagi Rapeani, angka fantastis tersebut bukan prestasi yang patut dibanggakan, melainkan bukti bahwa jaringan narkoba di Mimika semakin mengakar dan mengancam masa depan generasi muda.
"Kalau dulu yang dimusnahkan nilainya puluhan juta, kemudian ratusan juta, sekarang sudah miliaran rupiah. Ini bukan menunjukkan keadaan membaik, tetapi justru menjadi tanda bahwa peredaran narkoba semakin gila dan semakin masif di Mimika," tegasnya.
Menurutnya, masyarakat mulai mempertanyakan efektivitas pemberantasan narkoba. Pasalnya, dari tahun ke tahun nilai barang bukti yang dimusnahkan terus meningkat, namun publik jarang mendapatkan informasi yang jelas mengenai siapa pemasok utama, bandar besar, maupun jaringan yang memasukkan barang haram tersebut ke Mimika.
"Jangan hanya sibuk memusnahkan barang bukti di depan kamera. Masyarakat ingin tahu siapa pemain besarnya. Siapa pemasoknya? Siapa bandarnya? Siapa yang selama ini menikmati bisnis haram yang merusak anak-anak Mimika?" katanya dengan nada keras.
Yang lebih memprihatinkan, lanjut Rapeani, narkoba kini tidak lagi beredar di pusat Kota Timika semata. Berdasarkan laporan masyarakat yang diterimanya, peredaran sabu dan narkotika lainnya sudah merambah hingga ke Distrik Mimika Timur dan mulai menyasar anak-anak muda, termasuk Orang Asli Papua (OAP) yang putus sekolah.
"Ini sangat berbahaya. Dulu banyak yang terjebak minuman keras, sekarang sudah naik level ke narkoba. Kalau kondisi ini dibiarkan, kita sedang menyaksikan penghancuran masa depan generasi Mimika secara perlahan," ujarnya.
Ia meminta Kapolres Mimika dan seluruh jajaran untuk tidak setengah hati dalam memberantas narkoba. Penindakan harus menyentuh akar persoalan, bukan hanya menangkap kurir atau pelaku lapangan, tetapi juga memburu dan menyeret bandar besar ke meja hijau.
"Kalau barang bukti yang dimusnahkan sudah mencapai miliaran rupiah, berarti ada jaringan besar yang bermain. Aparat harus berani membongkar sampai ke akar-akarnya. Jangan berhenti di ranting, tebang pohonnya," tegasnya.
Rapeani juga menuntut transparansi penuh dalam proses penegakan hukum agar masyarakat dapat mengawasi dan menilai sejauh mana keseriusan aparat dalam memerangi narkoba.
"Narkoba adalah pembunuh generasi. Ia merusak masa depan anak-anak, menghancurkan keluarga, dan menggerogoti masa depan daerah. Mimika tidak boleh kalah melawan bandar narkoba. Negara harus hadir dengan tindakan nyata, bukan sekadar seremoni pemusnahan barang bukti," pungkasnya.
Meningkatnya nilai narkoba yang berhasil disita hingga mencapai Rp2,7 miliar menjadi alarm keras bagi seluruh pihak. Pertanyaannya kini, apakah aparat hanya akan terus memusnahkan barang bukti, atau benar-benar membongkar jaringan besar yang selama ini menjadikan Mimika sebagai pasar empuk peredaran narkoba?
Editor : Bruce Elang








































Komentar via Facebook