TOKOH PENDIRI DAN PENGURUS PARTAI NASDEM MBD MUNDUR MASAL" SINYAL BENCANA POLITIK " MULAI TERCIUM BAU TIDAK SEDAP DI KABUPATEN MALUKU BARAT DAYA.
TIAKUR, MALUKU BARAT DAYA – TribunNusantara- Web - id / Suhumu politik di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) kembali memanas. Sepuluh tokoh senior yang dikenal sebagai pendiri sekaligus pengurus DPD Partai NasDem MBD periode 2010–2025 menyatakan mundur massal dari partai. Fenomena ini sontak menghebohkan publik politik lokal.
Keputusan bersejarah itu tertuang dalam Surat Pengunduran Diri dan Pencabutan Keanggotaan yang ditandatangani pada 27 November 2025 di Tiakur kabupaten malku barat Daya dan ditujukan langsung kepada Ketua Umum DPP Partai NasDem di Jakarta.
Nama-nama besar ikut tercantum dalam surat tersebut, antara lain:
- Laurens HK. Boreel .
- Frits Fredriko Pera
- Daniel Rehyara
Dalam surat itu, para pendiri menyebutkan pengunduran diri dilakukan tanpa tekanan, arahan politik, intervensi atau pengaruh dari pihak manapun.
“Dengan ini saya menyatakan sikap saya tanpa dipaksakan atau dipengaruhi oleh siapapun untuk keluar dari Partai NasDem dan meminta kepada Partai NasDem untuk mencabut keanggotaan saya,” tulis penggalan kalimat pernyataan resmi tersebut.
Langkah ini seakan mengakhiri satu fase panjang perjalanan NasDem di MBD, yang selama lebih dari satu dekade dibangun oleh tokoh-tokoh tersebut dari nol.
Pesan dan Salam Restorasi: ‘Harapan Kursi Tumpah Ruah’
Meski mundur, salah satu mantan pengurus tetap menyampaikan doa dan dukungan terhadap struktur baru DPD NasDem MBD melalui unggahan pribadinya di media sosial.
“Semoga di bawah kepemimpinan yang baru NasDem MBD lebih baik, lebih kompak dan lebih sukses. Harapan kami, suara tumpah ruah dan kursi bertambah di kabupaten, provinsi dan pusat.”
Pernyataan “suara tumpah ruah” itu justru memantik gelombang komentar publik. Sejumlah warganet menganggap pesan itu bernada simbolik dan mengandung makna tersirat tentang masa depan politik NasDem di MBD.
Warganet Panas: Kekhawatiran, Sindiran dan Prediksi ‘Bencana Politik’
Ramainya mundur pengurus ini langsung memantik reaksi warga dunia maya. Komentar-komentar keras bermunculan dan mayoritas bernada kritis.
Akun Cides Onaola Timakeri menilai kondisi ini berpotensi menjadi pukulan telak bagi NasDem:
“NasDem hilang kursi di semua dapil. Teristimewa dapil 3.”
Ada pula komentar bernada peringatan keras dari akun Alfred Matheus Dahoklory:
“Bencana su datang ly kombali [bencana sudah datang lagi kembali].”
Namun tidak semua komentar bernada negatif. Sebagian warganet justru optimistis terhadap peluang regenerasi.
Akun Veky Tiwery memberi apresiasi dan menilai proses ini sebagai momentum restrukturisasi:
“Kader baru segera dipromosikan. 1 hilang, 1000 tumbuh. Wajah baru pasti muncul.”
Bahkan ada yang melempar spekulasi liar, menyarankan para tokoh yang mundur untuk segera berlabuh ke partai lain.
Komentar publik ini memperlihatkan satu hal: keputusan ini bukan sekadar isu internal partai, tetapi sudah menjadi konsumsi politik publik di MBD.
Mengarah ke Babak Baru Politik MBD
Kepergian tokoh-tokoh pendiri ini bukan hanya sekadar perpindahan status keanggotaan. Ini adalah peristiwa politik serius yang beririsan dengan elektabilitas, kekuatan struktur, soliditas kader, hingga posisi kursi legislatif pada Pemilu 2029.
Kini semua mata tertuju pada DPD Partai NasDem MBD yang dipimpin struktur baru. Beban dan harapan publik menumpuk:
Mampukah mempertahankan basis suara?
Mampukah menjaga kursi di DPRD?
Atau justru prediksi “hilang kursi” benar-benar terjadi?
Satu hal jelas. Keputusan mundur massal ini telah membuka babak baru dalam peta politik MBD. Arah konsolidasi internal dan kemampuan mengelola kepercayaan publik akan menjadi faktor penentu apakah peristiwa ini menjadi “bencana” atau justru jadi momentum kebangkitan baru.
Dinamika politik di MBD belum berhenti. Justru baru dimulai.
Analisis Politik: Tanda Retaknya Soliditas Partai dan Efek Domino di MBD Seorang pengamat politik lokal di Maluku, mengamati bahwa pengunduran diri massal pendiri dan pengurus senior ini bukan hanya fenomena administratif biasa, tetapi dapat dibaca sebagai gejala retaknya soliditas partai di tingkat kabupaten.
Menurutnya, proses pengunduran diri tokoh-tokoh yang adalah pionir sejak pembentukan NasDem MBD menunjukkan adanya persoalan konsolidasi internal, distribusi kepentingan, dan ketidakmampuan sistem kaderisasi menjaga loyalitas jangka panjang.
“Partai itu akan kuat bukan karena pemimpinnya saja, tetapi karena soliditas basis pendiri dan kader awal. Kalau mereka mundur bersamaan, itu alarm politik,” ujarnya.
Ia menambahkan, ada tiga potensi dampak politik yang paling mungkin terjadi dalam waktu dekat:
1. Krisis Kepercayaan Publik
Masyarakat MBD dikenal sebagai pemilih yang sensitif terhadap dinamika internal partai. Perpecahan di tubuh partai akan selalu dibaca sebagai ketidakstabilan kepemimpinan.
“Publik biasanya tidak melihat siapa yang salah. Mereka hanya melihat bahwa partai sedang tidak solid. Itu efek langsung terhadap elektabilitas.”
2. Ancaman Hilangnya Kursi di DPRD
Fenomena kader inti keluar dari partai sering berujung pada gesekan elektoral. Apalagi pada daerah yang memiliki distribusi suara yang masih bergantung pada figur dan jaringan sosial.
“Kalau tokoh besar keluar, suara keluar. Itu sudah hukum politik di MBD. Kecuali partai bergerak cepat membangun sentral komando dan konsolidasi yang ketat.”
3. Potensi Efek Domino ke Partai Lain
Dalam dinamika politik daerah, perpindahan tokoh selalu punya efek berkepanjangan. Sang analis memperingatkan bahwa kejadian ini bisa memicu gelombang perpindahan berikutnya.
“Karena mereka bukan hanya kader, tetapi simpul suara. Pergerakan mereka akan diikuti oleh jaringan pendukung, keluarga politik, dan tokoh lokal lainnya.”
Ia menutup analisisnya dengan menyatakan bahwa peristiwa ini adalah ujian pertama bagi kepemimpinan baru NasDem MBD.
NasDem MBD berada di garis critical point. Apakah mereka pecah atau bangkit, semuanya tergantung kecepatan konsolidasi. Kalau tidak, apa yang dikomentari warganet soal hilangnya kursi bukan lagi spekulasi, tapi kenyataan.”
Twitter KAREL.








































Komentar via Facebook