Tragedi di Sentani: Ketika Nyawa Menunggu di Depan Pintu Rumah Sakit
Jayapura, TribunNusantara.web.id | Udara dingin Sentani malam itu menusuk tulang, tetapi rasa sakit yang menjalar di tubuhku jauh lebih dalam daripada dingin mana pun. Aku tahu waktunya sudah tiba—bayiku, anak yang kutunggu dengan penuh cinta, sebentar lagi akan lahir. Kami bergegas menuju rumah sakit pertama dengan harapan penuh.
Namun pintu itu seperti menolak kami.
“Ruang operasi sedang direnovasi,” kata petugas dengan nada datar.
Dadaku terasa runtuh, tapi kami tidak punya waktu untuk kecewa. Kami melaju ke rumah sakit kedua.
Di sana, jawabannya bahkan lebih menyayat.
“Maaf, ruang perawatan penuh.”
Tubuhku semakin lemas, setiap tikungan jalan adalah siksaan bagi dua nyawa: aku dan anakku.
Kami kembali ke mobil, memutar haluan menuju rumah sakit ketiga. Di tempat ini, bukan fasilitas atau kondisi darurat yang muncul pertama kali—melainkan angka.
“Empat juta untuk kamar VIP. Kamar BPJS penuh.”
Empat juta… di saat aku hanya butuh pertolongan.
Suamiku terdiam, menggenggam tanganku yang mulai dingin. Kami datang membawa harapan, tapi yang kami terima adalah perhitungan biaya. Kami butuh nyawa, bukan kamar mewah.
Dalam keputusasaan, kami kembali lagi. Namun di tengah perjalanan itu, tubuhku mulai kejang. Dunia berputar… lalu hening. Rasa sakit itu hilang—seketika berganti kehangatan yang tak pernah bisa kulukiskan. Di sebuah tempat yang tak lagi menyakitkan, aku mendekap bayiku. Dia tenang, dia hangat… dia bersamaku.
Dari kejauhan, samar-samar aku mendengar suara-suara di dunia yang kutinggalkan: kemarahan, penyesalan, pembelaan, permintaan maaf, dan frasa yang paling menyayat—“kebodohan sistem.”
Aku mendengar tangisan suamiku.
Aku mendengar publik bersuara, mempertanyakan bagaimana sebuah nyawa bisa tergelincir hanya karena pintu-pintu rumah sakit yang tertutup oleh alasan, oleh renovasi, oleh kepenuhan kamar, oleh nominal Rupiah.
Semoga tragedi ini menjadi pelajaran paling mahal—dan paling jujur—bagi sistem kesehatan di Indonesia. Sebab tak ada renovasi, tak ada kamar penuh, dan tak ada tarif VIP yang seharusnya berdiri di antara manusia dan haknya untuk hidup.
(Red)








































Komentar via Facebook