Tual Peringati Hari Pahlawan: Nilai Perjuangan Diingatkan di Tengah Tantangan Zaman
Tual, TribunNusantara.web.id | 10 November 2025 - Suasana pagi di halaman Balai Kota Tual tampak seperti ditarik ke masa silam. Udara lembut pukul 08.00 WIT bercampur harum tanah basah, sementara ratusan peserta upacara berdiri tegak dalam diam yang hampir menyentuh.
Upacara Hari Pahlawan tahun 2025 itu berjalan khidmat, diselenggarakan oleh Dinas Sosial Kota Tual dengan tema nasional “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.”
Wakil Wali Kota Tual, Hi. Amir Rumra, S.Pi., M.Si., tampil sebagai Inspektur Upacara. Di barisan depan, Hasan A. S. Rengur, S.Sos memimpin sebagai Komandan Upacara, sementara Blasius Rentanubun, S.Sos bertugas sebagai Perwira Upacara.
Para peserta menyemut rapi: staf ahli dan staf khusus wali kota, para asisten Setda, pimpinan OPD, kepala bagian, para kepala SD dan SMP, serta ratusan ASN dan PPPK. Sekitar 400 orang berbaris dalam barisan yang memanjang seperti pita merah putih di tengah halaman Balai Kota.
Rangkaian acara mengikuti tata urutan upacara nasional. Laporan komandan, kibaran Merah Putih, pembacaan Pancasila dan UUD 1945, hingga pesan-pesan pahlawan yang seakan menyenggol kesadaran: kemerdekaan dibayar mahal, dan generasi sekarang tinggal menebusnya dengan kerja yang jujur dan tekun.
Amanat Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, dibacakan oleh Wakil Wali Kota Tual. Di dalamnya terkandung tiga nilai yang disebut sebagai inti perjuangan para pahlawan: kesabaran, pengabdian tanpa pamrih, dan pandangan jauh ke depan.
“Kemerdekaan tidak jatuh dari langit,” katanya, “melainkan lahir dari keberanian dan keikhlasan.”
Nilai-nilai itu, menurut amanat tersebut, kini diteruskan dalam kerja-kerja pembangunan yang diarahkan pada ketahanan nasional, keadilan sosial, serta peningkatan kualitas manusia Indonesia.
Upacara ditutup pukul 08.45 WIT. Para peserta membubarkan diri dengan langkah perlahan, seperti membawa pulang sepotong refleksi dari halaman Balai Kota: bahwa perjuangan hari ini tidak lagi mengangkat bambu runcing, tetapi ketekunan, ilmu, dan empati dalam menghadapi zaman yang terus berubah.
(BR)








































Komentar via Facebook