Tutup Sasi Teluk UN Ohoi Taar, Tradisi Adat Kei Menjaga Laut dari Generasi ke Generasi

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 14 Desember 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Tutup Sasi Teluk UN Ohoi Taar, Tradisi Adat Kei Menjaga Laut dari Generasi ke Generasi

Tual, TribunNusantara.web.id | Tradisi adat kembali menjadi penanda hubungan manusia dan alam di Kepulauan Kei. Sabtu sore, 13 Desember 2025, masyarakat Ohoi Taar bersama pemerintah daerah dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Tual melaksanakan Festival Tutup Sasi Teluk UN–Ohoi Taar. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Jembatan Lairko hingga Teluk UN, Kecamatan Pulau Dullah Selatan, Kota Tual, Maluku.

Festival tutup sasi merupakan ritual adat masyarakat Kei yang menandai penutupan sementara pemanfaatan sumber daya alam, khususnya wilayah laut, demi menjaga keberlanjutan ekosistem. Dalam prosesi tersebut, janur kuning—disebut hawear—dipasang sebagai simbol larangan adat bagi siapa pun untuk mengambil hasil laut di kawasan yang telah ditetapkan.

Sejumlah pejabat hadir dalam kegiatan ini, antara lain Wakil Wali Kota Tual Hi. Amir Rumra, Dandenpom Lanal Tual Mayor Laut (PM) Hendrijianto, Danramil 1503-01/Tual Kapten Inf. Musa Renyaan, Kaintel Lanud D. Dumatubun Lettu Sus Tri Prayitno, Wakapolres Tual Kompol Roni F. Manawan, serta perwakilan Kejaksaan Negeri Tual. Hadir pula Kepala Ohoi Taar, tetua adat, dan masyarakat setempat.

Rangkaian acara diawali dengan ritual adat di kediaman Kepala Ohoi Taar, dilanjutkan prosesi menuju Teluk UN. Di lokasi tersebut, dilakukan pemasangan sasi, penebaran benih teripang, serta pelepasan benih terumbu karang—sebuah upaya simbolik sekaligus nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Dalam sambutan Wali Kota Tual yang dibacakan Wakil Wali Kota, pemerintah menegaskan bahwa sasi bukan sekadar upacara seremonial. Tradisi ini dinilai sebagai bentuk kearifan lokal yang mengajarkan disiplin, kebersamaan, dan rasa hormat terhadap alam.

“Melalui sasi, leluhur kita telah mewariskan cara menjaga sumber kehidupan secara berkelanjutan,” ujar Amir Rumra.

Pemerintah Kota Tual, menurutnya, berkomitmen mendukung pelestarian budaya lokal melalui penguatan ekonomi masyarakat pesisir, pariwisata budaya, serta perlindungan lingkungan.

Festival tutup sasi diharapkan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda, mendorong pariwisata berkelanjutan, dan memperkuat nilai persatuan ain ni ain—filosofi hidup orang Kei.

Pamong Wilayah 20, Santi Nurlete, menjelaskan bahwa sasi atau hawear merupakan hukum adat yang telah lama hidup di masyarakat Kei.

Aturan ini tidak hanya menjaga kelestarian alam, tetapi juga berfungsi mencegah konflik sosial. Pelanggaran terhadap sasi dikenakan sanksi adat yang tegas, mulai dari denda hingga konsekuensi spiritual.

Festival ditutup dengan prosesi adat di kawasan Tavidu Beach dan acara seremonial yang diiringi pertunjukan budaya lokal. Hingga kegiatan berakhir pada pukul 18.37 WIT, seluruh rangkaian acara berlangsung aman dan lancar.

Di tengah arus modernisasi, tutup sasi Teluk UN menjadi pengingat bahwa tradisi bukanlah masa lalu yang ditinggalkan, melainkan pengetahuan hidup yang terus relevan dalam menjaga masa depan laut dan manusia Kei.
 

(Evav)