Umar Kei Membangun Harmoni Keluarga Besar di Ibu Kota

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 23 November 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Umar Kei Membangun Harmoni Keluarga Besar di Ibu Kota

Jakarta, TribunNusantara.web.id | Sebagai salah satu tokoh Kei yang dikenal luas di Jakarta, Umar Kei menampilkan sisi lain kehidupan sosial komunitas Maluku melalui keluarga besarnya.

Pria kelahiran 17 Agustus itu bukan hanya Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Front Pemuda Muslim Maluku (DPP FPMM), tetapi juga pendiri organisasi yang kini memiliki jaringan di 27 provinsi.

Dalam kesehariannya, Umar Kei hidup bersama tiga istrinya dan 24 anak dalam satu klaster perumahan mewah. Masing-masing istri menempati rumah terpisah, namun kedekatan dan kerukunan keluarga tetap terjaga.

Umar menekankan bahwa kunci keharmonisan adalah keadilan—baik dalam perlakuan maupun pemenuhan kebutuhan.

“Kalau satu anak dapat sepatu baru, semua juga harus dapat,” ujarnya dalam sebuah wawancara. Untuk menghidupi keluarganya, ia mengaku menghabiskan biaya hingga sekitar Rp100 juta per bulan.

Fenomena keluarga besar seperti Umar Kei bukan hal asing dalam masyarakat Kei. Tradisi setempat memandang banyak anak sebagai lambang kekuatan, kesinambungan marga, dan kebanggaan keluarga.

Nilai solidaritas dan kekerabatan—dikenal sebagai ain ni ain atau yante, lor—menjadi fondasi hubungan sosial yang membuat keluarga besar menjadi norma positif.

Secara historis, masyarakat Kei kerap menganggap banyak anggota keluarga sebagai bentuk perlindungan, tenaga kerja, dan modal sosial dalam kehidupan bertani maupun melaut.

Selain itu, keberadaan hukum adat Larvul Ngabal ikut membentuk pola pikir tentang pentingnya persatuan dan besarnya komunitas.

Kisah Umar Kei menggambarkan perpaduan antara modernitas dan tradisi. Di tengah kehidupan perkotaan Jakarta, ia mempertahankan nilai-nilai Kei yang menjunjung kekeluargaan, keadilan, dan solidaritas—nilai yang terus hidup dari generasi ke generasi.