Umar Ohoitenan: Hentikan Konflik, Maluku Harus Kembali Baku Sayang

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 28 Desember 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Umar Ohoitenan: Hentikan Konflik, Maluku Harus Kembali Baku Sayang

Ambon, TribunNusantara.web.id | Di tengah riak konflik yang kerap mencuat di sejumlah wilayah Maluku, Ketua Umum Forum Pemuda Maluku Maju (FPMM) Umar Ohoitenan menyerukan satu pesan sederhana namun mendasar: damai.

Ajakan itu ia sampaikan kepada seluruh warga Maluku agar menghentikan pertikaian dan kembali merawat persaudaraan yang telah lama menjadi fondasi hidup orang basudara.

Seruan tersebut disampaikan Umar dalam pernyataan terbuka yang terekam dalam sebuah foto dan beredar luas di media sosial.

Dalam pernyataannya, Umar mengajak masyarakat lintas daerah dan latar belakang untuk menahan diri, menjauhi kekerasan, serta menghidupkan kembali nilai kasih sayang yang diwariskan para leluhur Maluku.

“Beta pung basudara Kei, SBT, Kailolo—beta sayang kamong. Stop bakalai. Mari katong baku sayang dan hidup damai di Maluku,” ujar Umar.

Menurut Umar, konflik sosial hanya akan melahirkan luka berkepanjangan bagi masyarakat serta menghambat pembangunan daerah. Ia mengingatkan bahwa Maluku memiliki sejarah panjang tentang pela gandong—sebuah ikatan persaudaraan yang melampaui sekat agama, suku, dan wilayah—yang seharusnya terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemuda sebagai penjaga nalar dan agen perdamaian di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks. Umar mengajak tokoh adat, tokoh agama, serta aparat keamanan untuk bergandengan tangan menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap kondusif.

“Maluku ini rumah bersama. Jangan karena perbedaan atau persoalan sesaat, katong saling menyakiti. Damai itu bukan kelemahan, damai adalah kekuatan katong,” kata Umar.

Ajakan tersebut mendapat respons luas dari masyarakat. Banyak warga menilai seruan Umar sebagai pesan moral yang menyejukkan, terutama di tengah berbagai isu sosial yang berpotensi memecah persatuan di Maluku.

Bagi Umar, menjaga Maluku tetap damai bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab bersama. Sebab hanya dengan kedamaian, Maluku dapat melangkah maju tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi jati dirinya.
 

(M.N)