UNPATTI Lantik 29 Dokter Baru, Tapi Maluku Masih “sakit”: Puskesmas Kosong, Dokter Menumpuk Di Kota

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 14 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

UNPATTI Lantik 29 Dokter Baru, Tapi Maluku Masih “sakit”: Puskesmas Kosong, Dokter Menumpuk Di Kota

Ambon, TribunNusantara.web.id | Di tengah tepuk tangan dan prosesi sumpah dokter yang berlangsung khidmat di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura, terselip satu kenyataan pahit yang belum juga terobati di Maluku: masih banyak masyarakat di wilayah kepulauan hidup tanpa layanan dokter yang memadai.

Sebanyak 29 dokter baru resmi dilantik dalam Pengambilan Sumpah dan Pelantikan Dokter Lulusan Ke-38 Periode Mei 2026, Rabu (13/5/2026). Mereka diharapkan menjadi harapan baru bagi pelayanan kesehatan di Maluku yang selama ini masih pincang.

Namun di balik toga dan medali kelulusan, publik kembali diingatkan pada masalah klasik yang tak kunjung selesai dokter terus dicetak, tetapi banyak puskesmas di daerah terpencil tetap kekurangan tenaga medis.

“700 Dokter Sudah Lahir, Tapi Banyak Daerah Masih Kekurangan Dokter”

Rektor Universitas Pattimura, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd mengungkapkan bahwa selama 16 tahun perjalanan Fakultas Kedokteran, Unpatti telah menghasilkan lebih dari 700 dokter.

Ironisnya, hingga hari ini masih banyak fasilitas kesehatan di Maluku yang belum memiliki dokter secara memadai.

“Kita sudah melahirkan ratusan dokter, tetapi realitas di lapangan menunjukkan masih banyak daerah yang kekurangan pelayanan medis,” ungkap Rektor.

Pernyataan itu seolah menjadi alarm keras bahwa persoalan kesehatan di Maluku bukan lagi soal kurang lulusan, tetapi lemahnya sistem penempatan, fasilitas, dan perhatian pemerintah terhadap tenaga medis di daerah kepulauan.

Dokter Mau Mengabdi, Tapi Daerah Harus Siap

Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, juga mengakui kebutuhan dokter di Maluku masih sangat tinggi, terutama di wilayah kepulauan dan puskesmas terpencil.

Namun ia tak menampik bahwa pemerintah daerah masih menghadapi keterbatasan anggaran untuk menyediakan fasilitas, insentif, dan jaminan kerja bagi dokter muda.

Akibatnya, banyak daerah membutuhkan dokter, tetapi belum mampu memberikan dukungan yang layak bagi tenaga medis yang ditempatkan di lapangan.

“Kebutuhan dokter masih tinggi, tetapi daerah juga memiliki keterbatasan kemampuan anggaran,” kata Vanath.

Situasi ini memunculkan ironi: masyarakat di pulau-pulau kecil kesulitan mendapatkan dokter, sementara banyak tenaga medis muda masih menunggu kepastian penempatan dan dukungan kerja.

FK Unpatti Tegas: Pendidikan Dokter Tidak Boleh Jadi Ruang Intimidasi

Di tengah sorotan nasional soal kekerasan mental dan perundungan dalam dunia pendidikan kedokteran, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FK Unpatti, dr. Irwan, S.P., J.P menegaskan bahwa Fakultas Kedokteran Unpatti tidak boleh menjadi ruang bagi praktik power abuse maupun bullying.

Menurutnya, pendidikan profesi dokter memang harus disiplin dan keras, tetapi tidak boleh melahirkan budaya intimidasi yang merusak mental mahasiswa.

“Kami ingin membangun pendidikan dokter yang tegas, profesional, tetapi tetap manusiawi dan bermartabat,” tegas dr. Irwan.

Karena itu, pihak fakultas berkomitmen memperkuat pengawasan dan evaluasi agar lingkungan pendidikan tetap sehat dan aman bagi seluruh mahasiswa.

Bukan Sekadar Wisuda, Tapi Ujian Kemanusiaan

Prosesi pelantikan ditandai dengan pengambilan sumpah dokter, penandatanganan kesiapan ditempatkan di wilayah Maluku pasca internship, pengalungan medali, penyerahan ijazah, hingga penyerahan dokter baru kepada organisasi profesi.

Namun lebih dari sekadar seremoni akademik, pelantikan ini menjadi pengingat bahwa Maluku masih menghadapi pekerjaan rumah besar di sektor kesehatan.

Sebab di banyak pulau kecil, masyarakat tidak membutuhkan pidato panjang tentang pelayanan kesehatan mereka hanya ingin satu hal sederhana: dokter yang benar-benar hadir saat dibutuhkan.