Usai Bentrok Pemuda di Kota Tual, BEM Nusantara Desak Pembinaan Generasi Muda Lebih Terarah
Tual, TribunNusantara.web.id | Bentrok antar pemuda yang terjadi di wilayah Fiditan, beberapa waktu lalu, kembali menyadarkan banyak pihak tentang rapuhnya fondasi sosial di tingkat akar rumput. Peristiwa itu memang telah mereda, namun residu sosialnya masih menyisakan kegelisahan.
Di tengah situasi tersebut, Koordinator Daerah BEM Nusantara wilayah Maluku, Rahantan, menilai konflik yang melibatkan anak muda tak bisa semata dipandang sebagai insiden spontan. Ada persoalan yang lebih mendasar: lemahnya pembinaan dan kurangnya ruang aktualisasi yang sehat bagi generasi muda.
“Generasi muda adalah aset daerah. Jika energi mereka tidak diarahkan, gesekan sosial akan mudah terjadi,” ujar Rahantan dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo, pekan ini.
Refleksi Pasca-Konflik
Insiden di Fiditan, menurutnya, harus menjadi refleksi kolektif. Minimnya ruang ekspresi, terbatasnya wadah kegiatan produktif, serta melemahnya nilai persaudaraan disebut sebagai faktor yang berpotensi memicu konflik horizontal.
Rahantan mengapresiasi langkah cepat aparat keamanan bersama pemerintah daerah dan unsur legislatif, termasuk DPRD Kota Tual, dalam meredam situasi. Koordinasi lintas institusi dinilai efektif mencegah konflik meluas.
Namun, ia mengingatkan, stabilitas keamanan tak cukup dijaga dengan pendekatan represif atau respons jangka pendek. Rekonsiliasi pasca-konflik harus disertai program pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan.
“Kalau tidak disentuh dari akarnya, ini bisa menjadi bom waktu,” katanya.
Mendesak Program Jangka Panjang
BEM Nusantara Maluku mendorong agar pemerintah daerah memperkuat pendekatan dialogis dan edukatif. Pendidikan kebangsaan, penguatan nilai toleransi, serta pemberdayaan melalui kegiatan sosial, olahraga, dan kewirausahaan dinilai penting untuk membangun ketahanan sosial pemuda.
Menurut Rahantan, pembinaan generasi muda bukan hanya tanggung jawab aparat keamanan. Pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, hingga keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk karakter anak muda.
Kolaborasi lintas sektor inilah yang, menurut dia, mampu memutus mata rantai konflik dan menciptakan ruang interaksi yang sehat.
Menghidupkan Spirit Orang Basudara
BEM Nusantara Maluku juga mengajak pemuda menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran bersama. Spirit hidup orang basudara—nilai kearifan lokal masyarakat Maluku yang menjunjung persaudaraan—perlu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar jargon budaya.
Sebagai representasi mahasiswa, BEM Nusantara Maluku menyatakan komitmennya untuk terlibat aktif dalam mendorong dialog dan gerakan sosial yang memperkuat persatuan. Organisasi itu berjanji akan menggagas forum diskusi kepemudaan serta kegiatan pemberdayaan berbasis komunitas.
Harapannya, Kota Tual tidak hanya dikenal sebagai wilayah dengan dinamika sosial yang tinggi, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda yang berintegritas dan berdaya saing.
Konflik boleh saja reda. Namun pekerjaan rumah sesungguhnya baru saja dimulai.
(Evav)








































Komentar via Facebook