USULAN MASYARAKAT ABADIKAN NAMA TITUS POTREAU DAN JOHN F. SAKLIL DAPAT DUKUNGAN DPRK MIMIKA , Mathius Yanengga: Jika Bukan Putra Daerah Saja Menghargai Sejarah Mimika, Mengapa Kita Tidak?
Tribun-nusantara.web.id. TIMIKA, MIMIKA — Usulan masyarakat untuk mengabadikan nama dua tokoh penting dalam sejarah Kabupaten Mimika, Titus Potreau dan John F. Saklil, mendapat dukungan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Mathius Uwe Yanengga, dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Mathius menegaskan bahwa gagasan tersebut bukan berasal dari DPRK, melainkan merupakan usulan masyarakat yang disampaikan oleh Saleh Al-hamid. Menurutnya, usulan tersebut merupakan sebuah pemikiran yang patut diapresiasi karena lahir dari kepedulian terhadap sejarah dan tokoh-tokoh yang dinilai memiliki jasa besar bagi perkembangan Mimika.
Ia bahkan memberikan apresiasi khusus kepada Saleh Al-hamid yang, meskipun bukan putra asli daerah, dinilai memiliki perhatian dan penghargaan yang besar terhadap sejarah Mimika.
«“Saya sangat berterima kasih kepada salah satu tokoh, meskipun bukan putra daerah, tetapi memiliki gagasan dan pikiran yang luar biasa terhadap daerah ini. Kalau orang yang bukan putra daerah saja begitu menghargai dan menghormati kedua tokoh tersebut, kenapa kita sebagai putra asli negeri Amungsa ini tidak mendukung?” tegas Mathius.»
-Bukan Sekadar Pergantian Nama Jalan
Bagi Mathius, usulan tersebut tidak boleh dipandang hanya sebagai persoalan mengganti nama jalan. Lebih jauh, penamaan jalan dapat menjadi bagian dari upaya merawat ingatan kolektif dan sejarah Mimika.
Ia menyatakan akan memperjuangkan usulan tersebut bersama anggota DPRK lainnya, khususnya para putra daerah, agar dapat dibicarakan melalui mekanisme kelembagaan DPRK.
Mathius juga berharap dukungan penuh dari pimpinan DPRK Mimika, khususnya Ketua DPRK yang merupakan putra asli Kamoro.
«“Saya akan memperjuangkan hal ini bersama teman-teman putra daerah lainnya. Saya juga berharap dukungan penuh dari Ketua DPRK Mimika yang merupakan anak asli Kamoro,” ujarnya.»
-Titus Potreau: Nama yang Diusulkan untuk Menguatkan Ingatan Sejarah Pemerintahan
Dalam usulan tersebut, nama Titus Potreau dipandang memiliki nilai historis karena dikaitkan dengan fase awal pemerintahan Mimika dan disebut sebagai Bupati pertama Mimika.
Mathius menilai tokoh seperti Titus Potreau layak mendapatkan penghormatan karena merupakan bagian dari perjalanan sejarah terbentuk dan berkembangnya pemerintahan di Mimika.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah ruas jalan dari Pasar Lama menuju Pomako, yang saat ini dikenal sebagai Jalan Mapurjaya, untuk dipertimbangkan menggunakan nama yang berkaitan dengan Titus Potreau.
Namun, Mathius menegaskan bahwa seluruh usulan tersebut tetap harus dibahas dan diproses melalui mekanisme pemerintahan dan DPRK sesuai ketentuan yang berlaku.
-John F. Saklil: Jejak Tokoh Gereja dan Kehidupan Sosial Mimika
Sementara itu, John F. Saklil disebut sebagai salah satu tokoh gereja yang memiliki peran penting dalam perjalanan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Mimika.
Mathius menilai jasa tokoh tersebut tidak hanya berkaitan dengan kehidupan gereja, tetapi juga dengan upaya membangun kehidupan bersama masyarakat yang berasal dari berbagai suku dan latar belakang.
Karena itu, muncul usulan agar ruas jalan dari kawasan 3 Raja hingga SP 2, yang saat ini dikenal sebagai Jalan Cendrawasih, dapat dipertimbangkan untuk menggunakan nama Uskup John F. Saklil.
Menurut Mathius, pemberian nama tersebut akan menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengingat bagi generasi muda mengenai tokoh yang dianggap memiliki kontribusi terhadap perjalanan sosial, keagamaan, dan pembangunan masyarakat Mimika.
-DPRK Siap Membawa Aspirasi Masyarakat ke Pembahasan
Mathius memastikan dirinya mendukung penuh usulan tersebut. Namun, ia juga menempatkan usulan itu sebagai aspirasi masyarakat yang harus dibicarakan melalui mekanisme kelembagaan, bukan sebagai keputusan sepihak anggota DPRK.
Ia menyatakan usulan tersebut akan dibawa untuk dibicarakan dalam forum dan alat kelengkapan DPRK yang memiliki kewenangan terkait pembentukan maupun pembahasan regulasi daerah.
«“Kami mendukung penuh. Ini bagian dari sejarah. Kita perlu memberikan penghormatan kepada tokoh yang telah meletakkan dasar pemerintahan maupun kehidupan keagamaan di Mimika. Generasi yang akan datang harus mengetahui siapa mereka dan apa kontribusinya,” katanya.»
-Menjaga Sejarah untuk Generasi Mendatang
Menurut Mathius, sebuah daerah tidak hanya dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan ingatan sejarah, penghormatan kepada para pendahulu, dan penghargaan terhadap kontribusi tokoh-tokohnya.
Karena itu, ia berharap pembahasan mengenai penamaan jalan tersebut dapat berlangsung secara terbuka dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, DPRK, serta pihak-pihak yang memiliki pengetahuan sejarah mengenai Mimika.
Jika nantinya mendapatkan persetujuan melalui mekanisme resmi, penamaan jalan tersebut diharapkan bukan hanya menjadi simbol penghormatan, tetapi juga menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda.
“Kita tidak boleh membiarkan sejarah hilang. Kalau para pendahulu telah memberikan dasar bagi daerah ini, maka generasi sekarang mempunyai tanggung jawab untuk mengenang dan menghormati jasa mereka,” ujar Mathius.
-Dari Mimika untuk sejarah, dari sejarah untuk generasi masa depan.
Usulan masyarakat tersebut kini menjadi bagian dari aspirasi yang akan diperjuangkan di tingkat DPRK Mimika. Perjalanan selanjutnya akan bergantung pada proses pembahasan, kajian, serta keputusan resmi sesuai mekanisme pemerintahan daerah.
Gunawan








































Komentar via Facebook