VIDEO DUGAAN RASISME BEREDAR, POLISI DIMINTA PANGGIL ANGGOTA DPRK MIMIKA
VIDEO DUGAAN RASISME BEREDAR, POLISI DIMINTA PANGGIL ANGGOTA DPRK MIMIKA
Timika, Tribunnusantara-web.id — Sebuah video yang diduga memperlihatkan ucapan atau tindakan bernuansa rasis terhadap seorang petugas bandara beredar di tengah masyarakat dan memicu perhatian publik di Mimika.14/08/2026
Video tersebut diduga melibatkan salah satu anggota DPRK Mimika, Mathius Uwe Yanengga. Namun, kebenaran isi video, konteks kejadian, serta pihak-pihak yang terlibat masih perlu diklarifikasi secara objektif.
Atas beredarnya video itu, aparat kepolisian diminta segera memanggil dan meminta keterangan Mathius Uwe Yanengga guna memastikan fakta sebenarnya di balik peristiwa tersebut.
Langkah klarifikasi dinilai penting agar persoalan tidak berkembang menjadi bola liar yang memicu kesalahpahaman, keresahan, bahkan konflik antarkelompok masyarakat.
Polisi Jangan Biarkan Isu Rasisme Menjadi Bara
Dugaan rasisme bukan persoalan sepele. Apalagi jika menyangkut figur publik dan anggota lembaga legislatif yang memiliki tanggung jawab menjaga kehidupan demokrasi, persatuan serta keharmonisan masyarakat.
Karena itu, aparat penegak hukum diminta tidak hanya menunggu polemik berkembang di ruang publik. Klarifikasi harus dilakukan secara profesional, transparan dan berdasarkan bukti.
Apabila setelah pemeriksaan ditemukan adanya ucapan atau tindakan yang terbukti mengandung unsur rasisme, yang bersangkutan patut diminta mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan hukum yang berlaku, termasuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada pihak yang dirugikan dan masyarakat yang merasa tersinggung.
Sebaliknya, jika terdapat konteks atau fakta lain yang berbeda dari potongan video yang beredar, hal tersebut juga harus disampaikan secara terang kepada publik agar tidak terjadi penghakiman sepihak.
Mimika Bukan Tempat untuk Merendahkan Sesama
Mimika adalah rumah bersama bagi masyarakat dari berbagai suku, agama, daerah dan latar belakang.
Karena itu, tidak boleh ada ruang bagi rasisme, penghinaan, diskriminasi maupun tindakan yang dapat merendahkan kelompok masyarakat tertentu.
Setiap orang, terlebih pejabat publik, memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ucapan dan perilakunya. Perbedaan identitas tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan martabat orang lain.
Jabatan adalah amanah, bukan tiket untuk merendahkan sesama.
Jangan Rendahkan Simbol Negara
Selain dugaan rasisme, sorotan publik juga diarahkan pada tindakan dalam video yang disebut-sebut berkaitan dengan penggunaan atau penghamburan uang dalam situasi tertentu.
Persoalan tersebut perlu dilihat secara utuh berdasarkan rekaman lengkap dan fakta di lapangan. Jika benar terdapat tindakan yang dinilai merendahkan simbol negara atau menunjukkan perilaku yang tidak patut, aparat dan lembaga terkait perlu memberikan klarifikasi secara terbuka agar publik tidak berspekulasi.
Kritik terhadap perilaku pejabat publik merupakan bagian dari kontrol masyarakat. Namun, kritik juga harus tetap berbasis fakta dan tidak berubah menjadi fitnah.
Jaga Mimika, Jangan Bakar Persaudaraan
Masyarakat diminta tidak mengambil tindakan sendiri, tidak melakukan provokasi dan tidak menyebarkan potongan video dengan narasi yang belum terverifikasi.
Biarkan aparat melakukan pemeriksaan dan membuka fakta secara objektif.
Yang harus dijaga sekarang adalah ketenangan Mimika. Jangan sampai sebuah video yang belum diklarifikasi justru menjadi pemicu konflik yang lebih luas.
Mimika membutuhkan persaudaraan, bukan rasisme. Membutuhkan ketegasan hukum, bukan penghakiman massa.
Karena itu, pesan yang perlu ditegaskan adalah:
JAGA MIMIKA.
JAGA PERSAUDARAAN.
TOLAK RASISME.
HORMATI SESAMA.
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook