Wajah Keras Hati Manis, Pangdam XV/Pattimura Dodi Ajak Media Bangun Citra Positif Maluku
AMBON,Tribun-nusantara.web.id. Panglima Kodam XV/Pattimura, Mayor Jenderal TNI Dodi Triwinarto, resmi membuka kedekatan dengan insan pers di Provinsi Maluku. Dalam suasana akrab dan penuh canda, Jenderal Dodi mengajak seluruh awak media untuk bersama-sama menjaga persatuan dan mempromosikan sisi indah daerah ini demi kemajuan bersama.
Acara silaturahmi yang digelar ddikediaman Pangdam XV/Pattimura Airsalobar kecamatan Nusaniwe Ambon, Rabu (22/4/2026) ini menjadi momen pertama Dodi berinteraksi langsung secara luas dengan para jurnalis sejak menginjakkan kaki di Maluku dua minggu lalu.
-Filosofi Hidup dari Pesan Ibunda
Mengawali sambutan, Dodi mengutip amanah yang selalu ia pegang dari ibunda tercinta: "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung."
"Pesan Ibu sederhana: jadilah orang yang bermanfaat. Kalau tidak bisa memberi manfaat, minimal jangan menyusahkan orang lain. Itu yang saya bawa ke Maluku," ujarnya tegas namun hangat.
Pria kelahiran Medan dengan darah Jawa ini mengaku sempat merasa "deg-degan" saat pertama kali melihat masyarakat Ambon yang berwajah tegas. Namun, anggapan itu langsung pudar setelah berinteraksi.
"Saya orang Medan, bahasa saya keras tapi bukan kasar. Ternyata orang Ambon juga begitu, luarnya kelihatan garang, tapi hatinya manis. Jadi kita cocok," selorohnya disambut tepuk tangan meriah.
-Bahaya "Branding" Negatif, Jangan Sampai Ambon Jadi Seperti Poso
Dalam kesempatan itu, Dodi melontarkan kritik bijak terkait pemberitaan yang masih sering menyoroti sisi gelap seperti konflik antarkampung, tawuran, hingga isu sensitif lainnya. Ia menekankan bahwa tulisan media adalah senjata paling ampuh yang bisa membangun atau menjatuhkan citra daerah.
-Mengambil contoh Kota Poso, Dodi mengingatkan bahaya stigma negatif.
"Poso itu tempatnya indah, sumber daya alamnya banyak. Tapi karena dulu beritanya soal terorisme, sampai sekarang orang masih anggap zona merah. Investor jadi takut masuk. Jangan sampai Ambon bernasib sama," tegasnya.
-Oleh karena itu, ia meminta media untuk lebih bijak menyaring informasi.
"Senjata paling tajam bukan peluru, tapi pena kalian. Kalau berita itu bisa memecah belah dan merusak persatuan, lebih baik ditahan atau tidak perlu dimuat. Saring, konfirmasi, dan utamakan kepentingan daerah di atas segalanya," tambahnya.
Dodi juga mengumumkan komitmennya untuk menjalin komunikasi intensif. Ia menargetkan minimal 12 kali pertemuan dalam setahun atau rata-rata setiap dua bulan sekali.
Uniknya, pertemuan ini tidak harus kaku di ruang rapat. Dodi mengusung konsep santai, bisa di pinggir pantai, di warkop, sambil ngopi dan merokok agar obrolan lebih cair.
"Saya orangnya tidak alergi dengan jurnalis. Justru karier saya besar karena dukungan liputan media. Saya terbuka untuk dikritik, asal membangun," katanya.
Ia juga mengaku tergolong "gaptek" dan tidak memiliki akun media sosial pribadi, namun segala kegiatan positifnya selalu terekspos berkat kerja keras teman-teman pers.
Tak hanya soal kerja, Dodi juga menunjukkan sisi kemanusiaannya. Ia menyinggung kepeduliannya terhadap anak wartawan yang sedang sakit (Riska) dan memastikan akan membantu secara pribadi tanpa perlu di publikasikan.
Menutup acara, Jenderal Dodi menegaskan bahwa jabatan hanyalah titipan sementara.
"Rumah dinas ini rumah rakyat. Siapa pun boleh datang, mau curhat atau butuh bantuan, silakan. Mari kita satukan hati, bangun Maluku agar dikenal sebagai daerah yang aman, damai, dan sejahtera," pungkasnya.
(H.R)








































Komentar via Facebook