Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena: 17 Program Prioritas untuk Masa Depan Kota yang Lebih Baik
Ambon,Tribun-nusantara.web.id. Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, memaparkan capaian 17 program prioritas dirinya dan Wakil Wali Kota dalam satu tahun kepemimpinan. Dalam konferensi pers di Ruang Rapat Vlissingen, Balai Kota, Wattimena menjelaskan bahwa kebutuhan pembangunan gedung Kantor Wali Kota yang baru merupakan sebuah keniscayaan.
Kondisi kantor saat ini sudah tidak mampu lagi menampung seluruh pegawai, dan kondisi fisik bangunan yang kerap bocor saat hujan menjadi salah satu alasan mendesak perlunya pembangunan kantor baru. "Tujuannya untuk menjawab kondisi aktual kantor wali kota hari ini yang sudah tidak representatif, baik dari sisi daya tampung maupun estetika sebagai lambang kota," ujarnya.
Wattimena mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota juga diperhadapkan dengan aset daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota akan menggunakan skema Build Operate Transfer (BOT) atau Bangun Operasikan Serahkan, melalui kerja sama dengan investor.
Kawasan seluas kurang lebih 7 hektare akan dikembangkan menjadi kawasan perkotaan modern, dengan konsep kota modern berkelanjutan, menggunakan material modern serta sistem pengolahan limbah yang baik. Investor akan membangun rusun ASN, apartemen, dan hotel untuk dikelola dalam jangka waktu tertentu dengan sistem bagi hasil.
Setelah masa kerja sama berakhir, seluruh aset menjadi milik Pemerintah Kota. Bonus dari skema ini, adalah pembangunan kantor dan gedung perkantoran Pemerintah Kota menjadi tanggung jawab awal investor.
Wattimena juga menjelaskan bahwa Pemkot Ambon akan menggunakan skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha) untuk mendukung pembangunan di tengah keterbatasan anggaran. "Kita tidak mungkin membangun sesuatu yang megah dengan kondisi keuangan hari ini. Karena itu kita mencari alternatif pembiayaan dari investor maupun badan usaha," tandasnya.
Terkait persoalan genangan air di kawasan Ay. Patty, Wattimena mengatakan persoalan tersebut bukan semata-mata banjir, melainkan dampak pasang air laut yang menutup saluran pembuangan saat hujan deras terjadi. Solusi yang disiapkan adalah pembangunan kolam retensi, yakni kolam penampungan air sementara yang dilengkapi pintu air dan pompa untuk mengalirkan air ke laut saat kondisi memungkinkan.
Wattimena mengakui, tantangan terberat dalam pelaksanaan 17 program prioritas adalah mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Pemerintah daerah tidak bisa secara langsung membuka lapangan kerja dalam jumlah besar, karena tidak ada lagi penerimaan CPNS maupun tenaga honorer.
Solusi utama yang ditempuh adalah mendorong investasi, karena investasi akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Namun, ia mengingatkan bahwa keamanan kota menjadi faktor utama masuknya investor.
Wattimena berharap pemerintah kabupaten/kota lain di Maluku turut memikirkan penyediaan lapangan kerja di wilayah masing-masing, agar tidak seluruh pencari kerja bertumpu di Ambon.
Dalam sektor pariwisata, Wali Kota meminta Dinas Pariwisata dan pihak hotel/restoran untuk memprioritaskan produk lokal sebagai komplementer di kamar hotel, seperti jus pala dan produk UMKM lainnya.
Ia juga mendorong promosi destinasi wisata dan kuliner Kota Ambon melalui media informasi di kamar hotel. "Kalau orang sudah tiba di hotel, langsung dapat informasi tentang kuliner dan objek wisata. Itu bagian dari promosi," ujarnya.
Menjawab persoalan volume sampah yang terus meningkat, Wattimena mengatakan belum ada daerah di Indonesia yang sepenuhnya bebas sampah. Namun, Pemkot Ambon akan berinovasi dengan menghadirkan teknologi pengolahan sampah modern.
Rencananya, akan diterapkan teknologi MRF (Material Recovery Facility) untuk memilah dan mengolah berbagai jenis sampah, serta teknologi pengolahan menjadi briket dan produk lainnya.
Dengan sistem tersebut, sampah tidak lagi hanya ditumpuk di TPA seperti sistem konvensional saat ini. "Kalau mesin-mesin itu sudah ada, berapa pun volume sampah bisa diolah," tandasnya.
Wattimena menegaskan, konsistensi pelaksanaan 17 program prioritas berpedoman pada RPJMD yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan lima tahun. Tahun pertama telah dilalui, dan program akan terus dilanjutkan hingga tahun kelima dengan evaluasi progres secara menyeluruh.
Wattimena juga menyinggung soal pelantikan raja di sejumlah negeri adat. Ia berharap masyarakat dapat bersepakat dalam mengusulkan calon agar proses pelantikan berjalan baik.
"Pemerintah kota siap melantik, tetapi kalau masyarakat belum bersepakat, proses tidak bisa dipaksakan," pungkasnya.
Hadir pada konfrensi pers, Wakil Wali Kota, Ely Toisutta, Sekkot, Robby Sapulette, serta jajaran OPD Pemkot Ambon.
(H.R)








































Komentar via Facebook