Wali Kota Tual Akhmad Yani Renuat Gagas Waterfront City, Gereja dan Masjid Terapung, hingga Beasiswa Anak TKBM
Tual, TribunNusantara.web.id | Wali Kota Tual Akhmad Yani Renuat, S.Sos., M.Si., M.H. memaparkan visi besar yang memadukan kemajuan, budaya, dan kemanusiaan dalam sebuah acara kebudayaan dan olahraga yang digelar oleh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) Kota Tual.
Di hadapan para tokoh agama, masyarakat, pemuda, dan tamu undangan, Akhmad Yani berbicara tentang arah baru pembangunan Kota Tual sebagai kota maritim yang tangguh, modern, dan berdaya saing.
“Ke depan saya ingin Tual menjadi kota dengan wajah baru, kota maritim yang maju dan berbudaya,” ujar Akhmad Yani Renuat membuka sambutannya dengan nada tegas namun sarat makna.
Ia mengungkapkan, pemerintah kota kini tengah menyiapkan konsep Waterfront City di sepanjang pesisir Tual — kawasan tepi laut yang dirancang menjadi ikon baru kota ini.
Dalam gagasan tersebut, Akhmad Yani berencana membangun Gereja Terapung dan Masjid Terapung yang berdiri berdampingan di atas laut sebagai simbol harmoni antarumat beragama di Tual.
“Saya ingin masyarakat melihat bahwa toleransi bukan hanya kata, tapi karya,” ucapnya disambut tepuk tangan meriah dari hadirin.
Tak berhenti di sana, Akhmad Yani juga mengungkapkan keinginannya mengembangkan kawasan snorkeling dan wisata bahari terintegrasi, dengan inspirasi dari destinasi kelas dunia seperti Maldives, Karimunjawa, hingga Labuan Bajo.
“Kita punya laut yang indah dan berpotensi besar. Jangan biarkan potensi itu tidur,” katanya penuh semangat.
Dalam pidatonya, Akhmad Yani Renuat menekankan pentingnya kemandirian ekonomi berbasis maritim. Ia menyoroti pembatasan kewenangan daerah oleh pemerintah pusat dalam pengelolaan wilayah laut yang dinilainya menghambat potensi daerah kepulauan seperti Tual.
“Saya siap menjadi pelopor untuk memperjuangkan perubahan regulasi ini,” tegasnya. “Kalau mahasiswa mau demo, demo-lah aturan yang menahan kemajuan kita. Saya akan berdiri di depan.”
Akhmad Yani juga menyebut rencana pembangunan docking kapal di Tual sebagai langkah strategis membuka lapangan kerja baru dan memperkuat ekonomi daerah.
“Satu kapal saja yang menjalani perawatan bisa menghasilkan pendapatan Rp1,2 miliar. Bayangkan kalau ada dua atau tiga kapal beroperasi di sini, ini peluang besar bagi masyarakat kita,” jelasnya.
Di tengah semangat besar membangun kota, Akhmad Yani tak lupa menyinggung sisi sosial masyarakat. Ia berjanji menyiapkan program beasiswa bagi anak-anak keluarga TKBM mulai tahun 2026, sebagai bentuk dukungan terhadap mereka yang telah berkontribusi dalam aktivitas ekonomi pelabuhan.
“Kalau mereka sudah berjerih lelah mencari nafkah di sini, maka saya juga harus hadir memberi dukungan nyata,” ujarnya.
Ia pun menyoroti potensi anak muda Tual di bidang olahraga—mulai dari tinju, futsal hingga bela diri campuran (MMA). Akhmad Yani berharap para atlet muda Tual dapat tampil di kancah nasional bahkan internasional.
“Saya ingin mereka berlagak di gelanggang nasional, bahkan dunia. Kota kecil ini bisa melahirkan nama besar,” tuturnya.
Menutup pidatonya, Akhmad Yani Renuat menyerukan pesan persatuan dan rekonsiliasi pasca-Pilkada. Ia mengajak semua elemen masyarakat untuk menanggalkan sekat politik dan bersatu demi kemajuan Tual.
“Saya tidak ingin ada perbedaan lagi. Mari kita bangun Tual bersama,” katanya penuh keyakinan.
Malam itu, pidato Akhmad Yani bukan sekadar sambutan seremonial. Ia mengubahnya menjadi seruan moral—sebuah mimpi besar tentang Kota Tual yang ingin tumbuh sebagai kota maritim modern yang berpijak pada nilai budaya, persaudaraan, dan semangat “Ain Ni Ain.”








































Komentar via Facebook