Warga Weet di Pulau Moa Hidup dalam Krisis Air, Pemerintah Daerah Dinilai Abai
Maluku Barat Daya, TribunNusantara.web.id | Dusun Weet di Pulau Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), kembali bergelut dengan krisis air bersih yang tak kunjung berakhir. Ironisnya, wilayah yang menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Pulau Moa ini justru menjadi yang paling parah merasakan kekeringan setiap tahun.
Setiap sore, antrean jerigen dan ember plastik menjadi pemandangan lumrah di depan titik-titik air. Tak hanya warga biasa, pegawai kantor camat, anggota Koramil, hingga aparat Polsek pun ikut berebut air untuk kebutuhan harian mereka.
“Kami seperti bukan bagian dari Maluku Barat Daya,” kata seorang warga dengan nada getir.
Dusun Weet hanya berjarak sekitar 25 kilometer dari Tiakur, pusat pemerintahan kabupaten. Dekat dengan pusat kekuasaan, tapi jauh dari layanan dasar.
Warga menyebut seolah-olah mereka “berlangganan” krisis air setiap tahun, tanpa ada solusi permanen dari pemerintah.
Lebih dari sekadar persoalan teknis, krisis air di Weet telah menjadi persoalan sosial yang mencederai rasa keadilan.
“Apakah kami masyarakat Dusun Weet belum merdeka?” ujar warga lain, kesal dan enggan menyebutkan namanya.
Air adalah kebutuhan paling mendasar, tetapi di Dusun Weet, akses terhadapnya terasa seperti barang mewah.
Ketiadaan solusi berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten MBD dianggap sebagai bentuk pengabaian. Padahal, krisis ini sudah berlangsung lama dan dikeluhkan berulang kali.
Warga kini menaruh harapan pada Bupati MBD agar tidak lagi menutup mata. Mereka meminta langkah konkret, bukan sekadar janji seremonial.
“Kami hanya ingin hidup layak seperti warga di kecamatan lain,” kata salah satu tokoh masyarakat.
Selama pemerintah daerah sibuk merancang program besar di atas kertas, masyarakat Dusun Weet terus bergelut dengan jerigen kosong. Pertanyaan mendasar pun bergema: sampai kapan warga di jantung Pulau Moa harus menunggu hak dasarnya dipenuhi?
Writter : Karel








































Komentar via Facebook