WARISAN BUDAYA PAPUA TERANCAM TERGERUS ZAMAN, MIMIKA BEKALI GURU KETERAMPILAN NOKEN, ANYAMAN DAN UKIRAN
WARISAN BUDAYA PAPUA TERANCAM TERGERUS ZAMAN, MIMIKA BEKALI GURU KETERAMPILAN NOKEN, ANYAMAN DAN UKIRAN
Lima Hari Pelatihan Jadi Langkah Strategis Menanamkan Kembali Identitas Budaya Papua di Lingkungan Sekolah
TIMIKA, PAPUA TENGAH Tribunnusantara-web.id — Pelestarian kebudayaan Papua di Kabupaten Mimika tidak cukup dilakukan melalui seremoni dan kegiatan tahunan. Di tengah derasnya perubahan zaman, pengetahuan mengenai noken, anyaman, mahkota adat, ukiran dan berbagai kesenian tradisional membutuhkan proses pewarisan yang nyata dan berkelanjutan.
Kesadaran tersebut didorong Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan memberikan pelatihan keterampilan kesenian tradisional kepada para guru.27/9/26
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas peserta melalui pembelajaran sekaligus praktik langsung pembuatan berbagai kerajinan berbasis budaya Papua.
Langkah ini dinilai penting karena sekolah merupakan salah satu ruang strategis untuk memperkenalkan sekaligus meneruskan pengetahuan budaya kepada generasi muda.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Daniel Orun, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pengenalan budaya harus dimulai sejak anak-anak berada di bangku sekolah.
“Jangan sampai anak-anak kita kehilangan budaya dan sejarahnya. Karena itu, mereka harus diberikan pemahaman dan keterampilan sejak di bangku sekolah,” ujar Daniel.»
BUDAYA TAK BOLEH BERHENTI PADA SEREMONI
Daniel menilai pelestarian budaya tidak boleh hanya sebatas memperkenalkan nama atau bentuk sebuah karya tradisional.
Menurutnya, generasi muda perlu diberikan kesempatan untuk memahami, mempraktikkan dan mengembangkan keterampilan tersebut sehingga budaya benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Karena itu, keterlibatan guru dalam pelatihan menjadi penting. Guru bukan hanya peserta pelatihan, tetapi juga diharapkan menjadi penghubung pengetahuan budaya kepada siswa di sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika menghadirkan Duta Noken Papua, Marshall Suebu, S.Sos., M.Si., sebagai narasumber.
Selama lima hari, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pembuatan anyaman, noken, mahkota adat, ukiran serta sejumlah kerajinan tangan tradisional Papua.
Marshall Suebu menegaskan bahwa keterampilan tradisional tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya Papua yang perlu dijaga keberlangsungannya.
“Anyaman, noken, mahkota dan ukiran di Papua tidak boleh punah. Bapak dan ibu guru harus mengajarkan anak-anak supaya mereka bisa berkarya di dunia seni dan budaya Papua,” katanya.»
GURU DIDORONG MENJADI PEWARIS PENGETAHUAN BUDAYA
Pelatihan tersebut tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga menjalani praktik secara langsung sehingga keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan kembali di lingkungan sekolah.
Hasilnya, setelah mengikuti pelatihan selama lima hari, para guru peserta mampu menghasilkan sejumlah karya kerajinan tangan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kesenian tradisional dapat dipelajari melalui proses pendidikan dan praktik yang terarah.
Di sinilah peran sekolah menjadi penting. Pendidikan kebudayaan tidak hanya berbicara mengenai pengetahuan teoritis, tetapi juga bagaimana peserta didik mengenal proses, nilai, filosofi dan keterampilan yang melekat pada warisan budaya daerah.
NOKEN BUKAN SEKADAR KERAJINAN
Salah satu perhatian utama dalam kegiatan tersebut adalah keberadaan noken sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Papua.
Daniel Orun mengatakan noken tidak sekadar dipandang sebagai produk kerajinan, tetapi memiliki nilai budaya dan masih digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia berharap penggunaan noken dapat terus dipertahankan dan diperluas, termasuk di lingkungan aparatur sipil negara (ASN) maupun masyarakat Kabupaten Mimika.
“Noken itu selalu dipakai dan merupakan salah satu budaya Papua yang sudah dikenal dunia. Kami berharap pemerintah daerah terus mendukung agar noken tetap digunakan oleh ASN maupun masyarakat di Kabupaten Mimika,” ungkapnya.»
Penggunaan noken secara nyata menjadi salah satu bentuk pelestarian yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, budaya akan lebih mudah bertahan ketika tidak hanya disimpan sebagai simbol, tetapi terus digunakan, dipraktikkan dan diwariskan.
ADA LANDASAN HUKUM, PELESTARIAN BUDAYA BUKAN SEKADAR PILIHAN
Upaya pelestarian kebudayaan juga memiliki landasan hukum yang kuat.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menempatkan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan sebagai bagian penting dalam pemajuan kebudayaan.
Dalam kerangka tersebut, pemerintah dan masyarakat memiliki peran dalam menjaga keberadaan objek pemajuan kebudayaan, termasuk pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, ritus dan berbagai ekspresi budaya.
Selain itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan nasional berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan nasional Indonesia serta tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Artinya, lingkungan pendidikan memiliki ruang strategis untuk memperkenalkan nilai budaya kepada generasi muda.
Khusus untuk Papua, pengakuan terhadap kekayaan budaya juga harus ditempatkan dalam kerangka penghormatan terhadap masyarakat adat dan keberagaman budaya sebagaimana dijamin dalam konstitusi.
Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Dengan demikian, pelatihan keterampilan budaya seperti noken, anyaman, ukiran dan mahkota adat bukan semata-mata kegiatan keterampilan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya konkret pemajuan kebudayaan.
JANGAN SAMPAI GENERASI MUDA HANYA MENGENAL BUDAYA DARI CERITA
Tantangan terbesar pelestarian budaya di era modern bukan hanya hilangnya benda atau karya tradisional, tetapi terputusnya pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika anak-anak hanya mengenal noken dari gambar atau cerita, tetapi tidak mengetahui cara membuat, menggunakan dan memahami maknanya, maka proses pewarisan budaya berpotensi mengalami pelemahan.
Karena itu, keberlanjutan program menjadi hal yang penting.
Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika berharap kegiatan peningkatan kapasitas tersebut tidak berhenti setelah lima hari pelatihan.
Daniel berharap perhatian pemerintah terhadap sektor kebudayaan dapat semakin diperkuat sehingga pelaku seni, guru, komunitas budaya, masyarakat adat dan generasi muda memperoleh ruang yang cukup untuk terus belajar dan berkarya.
“Harapan kami kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan. Pemerintah juga diharapkan lebih fokus memberikan perhatian kepada bidang kebudayaan, supaya masyarakat bisa mendapatkan manfaat dan budaya Papua tidak punah,” ujarnya.»
DARI SEKOLAH, BUDAYA PAPUA DIHARAPKAN KEMBALI HIDUP
Pelestarian budaya pada akhirnya membutuhkan kerja bersama.
Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab dalam kebijakan dan pembinaan. Sekolah menjadi ruang pendidikan. Guru menjadi salah satu penggerak pewarisan pengetahuan. Orang tua dan masyarakat adat memiliki peran dalam menjaga nilai dan praktik budaya. Sementara generasi muda menjadi penerus utama.
Karena itu, pelatihan lima hari tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan administratif atau laporan program.
Tantangan sesungguhnya justru berada setelah pelatihan selesai: apakah keterampilan yang telah diperoleh guru benar-benar diteruskan kepada siswa dan menjadi kegiatan budaya yang hidup di sekolah?
Pertanyaan tersebut penting agar program pemajuan kebudayaan tidak berhenti pada dokumentasi, tetapi menghasilkan perubahan nyata.
Noken, anyaman, mahkota adat, ukiran dan kesenian Papua harus tetap hidup di tengah masyarakat Mimika—bukan hanya menjadi benda yang dipajang, tetapi menjadi pengetahuan yang dipelajari, keterampilan yang dikuasai dan identitas yang dibanggakan oleh generasi muda.
Sebab ketika generasi muda kehilangan kemampuan mengenali dan memahami budayanya sendiri, yang terancam hilang bukan hanya sebuah karya seni, melainkan bagian dari sejarah, pengetahuan dan identitas masyarakat Papua.
TRIBUNNUSANTARA-WEB.ID | TIMIKA, PAPUA TENGAH
Penulis: M.G. Fakaubun
Editor B.E








































Komentar via Facebook