YAYASAN TUAREK LAWAN KLAIM SEPIHAK SOAL BESI TUA PTFI: “JANGAN PUTARBALIKKAN FAKTA ADAT”
YAYASAN TUAREK LAWAN KLAIM SEPIHAK SOAL BESI TUA PTFI: “JANGAN PUTARBALIKKAN FAKTA ADAT”
Timika Tribunnusantara-web.id — Polemik perebutan pengelolaan besi tua (scrap metal) di area operasional PT Freeport Indonesia kembali memanas. Kali ini, Yayasan Tuarek tampil terbuka dan menyerang balik berbagai klaim yang dinilai menyesatkan publik.
Dalam pernyataan sikap resmi yang dirilis, Yayasan Tuarek menegaskan bahwa mereka bukan pihak yang datang tiba-tiba lalu mengklaim hak pengelolaan. Sebaliknya, seluruh proses disebut telah melalui jalur resmi, mekanisme adat, hingga keputusan Pengadilan Adat Timika.22/05/2026
“Kami Bekerja Dengan Legalitas, Bukan Dengan Opini”
Yayasan Tuarek menegaskan bahwa mereka memiliki legalitas resmi dan rekam jejak kemitraan yang sah dengan PT Freeport Indonesia.
Karena itu, mereka menyayangkan munculnya tudingan dan opini liar yang dianggap mencoba menggiring persepsi publik seolah pengelolaan dilakukan secara sepihak.
“Yayasan Tuarek berdiri di atas dasar hukum dan keputusan adat yang sah, bukan atas kepentingan pribadi atau kelompok tertentu,” tegas pernyataan tersebut.
Putusan Adat Disebut Sudah Final
Menurut Yayasan Tuarek, keputusan pengelolaan scrap metal tidak lahir secara diam-diam. Prosesnya telah dibahas bersama LEMASA dan LEMASKO melalui Pengadilan Adat Timika.
Bahkan, Yayasan Tuarek mengklaim telah memenangkan gugatan dalam proses adat tersebut sebagai mayoritas pemilik hak ulayat di area terkait.
Karena itu, pihak-pihak yang tidak puas diminta berhenti membangun kegaduhan di media dan menempuh jalur banding resmi bila merasa keberatan.
“Kalau merasa punya dasar hukum, tempuh jalur hukum. Jangan bermain opini lalu memutarbalikkan fakta adat di ruang publik,” bunyi pernyataan itu.
Sindir Pengelolaan Lama: “Masyarakat Adat Tidak Pernah Benar-Benar Menikmati”
Pernyataan paling tajam muncul ketika Yayasan Tuarek menyoroti pengelolaan besi tua selama bertahun-tahun yang dinilai tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat adat secara luas.
Mereka menilai hasil ekonomi dari scrap metal justru diduga hanya berputar pada kelompok dan oknum tertentu yang berlindung di balik nama masyarakat adat.
“Tanah adat tidak boleh terus dijadikan alat mencari keuntungan segelintir orang. Masyarakat harus tahu ke mana hasil pengelolaan itu selama ini mengalir,” tegas Yayasan Tuarek.
Tolak Keras Klaim Gery Okoare
Di akhir pernyataannya, Yayasan Tuarek secara terbuka menolak seluruh klaim dan pernyataan Saudara Gery Okoare beserta kelompoknya yang dianggap mengabaikan keputusan lembaga adat dan menggiring opini yang tidak sesuai fakta di lapangan.
Pernyataan resmi tersebut ditutup dengan penegasan bahwa Yayasan Tuarek akan tetap berdiri pada jalur hukum, keputusan adat, dan prinsip transparansi dalam pengelolaan potensi ekonomi di wilayah adat sekitar PTFI.
Editor : Bruce Elang








































Komentar via Facebook