YOWAN DORONG LEMASA–LEMASKO SATU ARAH: DARI “MIMIKA DOLAR” MENUJU “MIMIKA EMAS 2045”
YOWAN DORONG LEMASA–LEMASKO SATU ARAH: DARI “MIMIKA DOLAR” MENUJU “MIMIKA EMAS 2045”
TIMIKA, PAPUA TENGAH Tribunnusantara-web.id — Kekayaan sumber daya alam Mimika harus menjadi kekuatan untuk membangun masa depan masyarakat, bukan menjadi sumber perpecahan kepentingan. Karena itu, politisi Papua dan mantan anggota DPRD Mimika, Yohanis Wantik (Yowan), mendorong Lembaga Masyarakat Adat Amungme (LEMASA) dan Lembaga Musyawarah Adat Kamoro (LEMASKO) memperkuat persatuan, komunikasi, dan kesamaan arah dalam mengawal pembangunan Mimika.
Menurut Yowan, Mimika memiliki modal besar untuk menjadi salah satu daerah dengan kekuatan ekonomi terdepan. Namun, kekayaan sumber daya alam tidak akan cukup apabila masyarakat adat dan para pemangku kepentingan tidak memiliki visi bersama dalam menentukan arah pembangunan.12/8/26
“LEMASA dan LEMASKO harus mampu berjalan dalam satu arah untuk kepentingan masyarakat. Bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi bagaimana kekuatan masyarakat adat Amungme dan Kamoro dapat menjadi fondasi bagi masa depan Mimika,” tegas Yowan.
Ia menilai keberadaan lembaga adat memiliki posisi penting dalam menjaga kepentingan masyarakat adat, terutama di tengah besarnya aktivitas ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam di Mimika.
Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut jangan sampai berkembang menjadi perpecahan yang justru melemahkan posisi masyarakat dalam menghadapi berbagai agenda pembangunan.
JANGAN BIARKAN KEKAYAAN MIMIKA HANYA MELAHIRKAN “MIMIKA DOLAR”
Yowan mengingatkan bahwa selama puluhan tahun Mimika dikenal sebagai daerah dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan kekayaan tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai momentum untuk mengubah paradigma “Mimika Dolar” menjadi “Mimika Emas 2045.”
“Kita jangan hanya berbicara tentang berapa besar uang yang berputar di Mimika. Kita harus berbicara tentang apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Pendidikan harus kuat, kesehatan harus maju, ekonomi masyarakat harus tumbuh, dan masyarakat adat harus memiliki posisi yang kuat dalam pembangunan,” ujarnya.
Menurut Yowan, Mimika membutuhkan tata kelola yang kuat, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Lembaga adat, pemerintah, dunia usaha, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh pemangku kepentingan harus membangun komunikasi yang sehat agar kekayaan daerah tidak berhenti sebagai angka ekonomi.
PERSATUAN ADAT JANGAN BERHENTI PADA SIMBOL
Yowan juga menekankan bahwa persatuan masyarakat adat tidak boleh hanya menjadi slogan. Persatuan harus diwujudkan melalui komunikasi, koordinasi, dan agenda bersama yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
Ia mendorong LEMASA dan LEMASKO memperkuat ruang dialog serta mencari titik temu dalam berbagai persoalan strategis yang menyangkut masa depan Mimika.
“Kalau kita ingin membawa Mimika menuju 2045, maka hari ini kita harus mulai membangun fondasinya. LEMASA dan LEMASKO harus kuat, masyarakat harus bersatu, dan pemerintah harus mampu membangun sistem yang adil serta transparan,” katanya.
Baginya, masa depan Mimika tidak boleh hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam maupun perputaran ekonomi. Kualitas manusia, persatuan masyarakat adat, tata kelola pemerintahan, serta keberanian menjaga kepentingan generasi mendatang harus menjadi ukuran utama pembangunan.
Yowan berharap momentum menuju Indonesia Emas 2045 juga menjadi kesempatan bagi Mimika untuk membangun visi daerah yang lebih jauh: dari daerah yang dikenal karena kekayaan sumber daya alam menjadi daerah yang dikenal karena kualitas manusia, kesejahteraan masyarakat, kekuatan budaya, dan tata kelola yang baik.
“Dari Mimika Dolar menuju Mimika Emas 2045. Itu hanya mungkin kalau kita bersatu, membangun sistem yang kuat, dan memastikan kekayaan Mimika menjadi milik masa depan generasi Mimika,” pungkasnya.
TIMIKA, 12 AGUSTUS 2026
YOHANIS WANTIK (YOWAN)
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook