“Beta Mandiri”: Strategi Julietty Frans Dorong Pemuda Maluku Barat Daya Bangkit dari Ketergantungan Ekonomi

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 04 Oktober 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

“Beta Mandiri”: Strategi Julietty Frans Dorong Pemuda Maluku Barat Daya Bangkit dari Ketergantungan Ekonomi

Tiakur, TribunNusantara.web.id |  Jumat, 3 Oktober 2025 - Pulau Moa, jantung pemerintahan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), menjadi saksi lahirnya semangat baru untuk menata masa depan pemuda desa. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga MBD, Julietty A. Frans, S.Pd, tampil memimpin sosialisasi strategi “Beta Mandiri”, sebuah gerakan yang dirancang untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi desa melalui pemberdayaan generasi muda.

Kegiatan yang melibatkan para kepala desa se-Pulau Moa itu bukan sekadar sosialisasi, melainkan upaya konkret untuk membangun kesadaran baru: bahwa kemajuan desa tak mungkin dicapai tanpa pemuda yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing.

“Pemuda adalah aset utama bangsa. Tapi di MBD, kita masih menghadapi persoalan mendasar—pengangguran tinggi, minimnya akses modal, dan keterampilan usaha yang terbatas,” ujar Julietty, yang juga peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XVIII BPSDM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025.

Tantangan dan Potensi di Tanah Seribu Pulau

Julietty menyoroti realitas getir di banyak kampung di MBD: anak muda lebih memilih merantau ke luar daerah ketimbang membangun potensi di tanah sendiri. Padahal, sumber daya lokal MBD berlimpah—dari laut yang kaya ikan, lahan pertanian yang subur, hingga potensi wisata budaya yang menawan.

“Yang kurang bukan potensi, tapi ruang untuk tumbuh,” katanya. “Pemuda kita butuh arah, butuh wadah, dan butuh dukungan nyata.”

Strategi “Beta Mandiri”

Untuk menjawab tantangan itu, lahirlah program “Beta Mandiri”, strategi pemberdayaan berbasis kolaborasi Pentahelix—pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Program ini berfokus pada lima langkah utama:

1. Peningkatan Kapasitas Pemuda melalui pelatihan kewirausahaan, manajemen usaha, dan literasi digital.
2. Akses Modal lewat pemanfaatan dana desa, CSR, koperasi, hingga kemitraan dengan perbankan.
3. Pengembangan Produk Lokal Unggulan, seperti hasil perikanan, pertanian, kerajinan tangan, dan wisata budaya.
4. Akses Pasar dan Promosi Digital, agar produk desa dikenal luas dan mampu bersaing.
5. Pendampingan dan Inovasi Berkelanjutan oleh akademisi dan komunitas agar pembinaan tidak berhenti di pelatihan semata.

Kepala Desa, Motor Penggerak di Garis Depan

Menurut Julietty, kepala desa memegang peranan kunci dalam menghidupkan gerakan ini. Ia menegaskan lima peran strategis yang harus dijalankan kepala desa:

* Fasilitator: membuka ruang bagi partisipasi pemuda dalam musyawarah dan perencanaan desa.
* Penggerak: mengalokasikan sebagian dana desa untuk program ekonomi pemuda.
* Pendamping: membina kelompok usaha atau koperasi pemuda di tingkat kampung.
* Kolaborator: menjalin kerja sama lintas sektor untuk memperkuat jaringan usaha.
* Motivator: menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat inovasi di kalangan pemuda.

“Pulau Moa harus menjadi contoh. Karena di sinilah pusat pemerintahan MBD berdiri. Dari Moa, semangat kemandirian itu harus menular ke seluruh pulau,” tegasnya.

Menuju Generasi “Beta Mandiri”

Julietty menutup paparannya dengan optimisme. Ia meyakini, bila strategi ini dijalankan dengan komitmen dan kolaborasi yang kuat, maka pemuda Maluku Barat Daya akan menjadi motor penggerak ekonomi desa.

“Melalui Beta Mandiri, kita ingin melahirkan wirausaha muda yang tangguh. Mereka bukan hanya siap bersaing, tapi juga mampu menciptakan produk unggulan yang menjadi kebanggaan MBD,” ucapnya penuh keyakinan.

Ia menambahkan, keberhasilan gerakan ini bergantung pada sinergi antara pemerintah desa, pemuda, dan seluruh elemen Pentahelix.

“Dengan kerja bersama, kita bisa mewujudkan Maluku Barat Daya yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing,” pungkas Julietty.

 

Writter : Karel